I. DEFINISI NABI DAN RASUL
Menurut bahasa, nabi berasal dan kata نبأ وأنبأ yang berarti أخبر (mengabarkan). Jadi nabi adalah yang memberitakan dari Allah dan ia diberi khabar dari sisi-Nya. Atau juga berasal dari kata نبا yang berarti علا وارتفع , (tinggi dan naik). Maka nabi adalah makhluk yang termulia dan tertinggi derajat atau kedudukannya.
Sedangkan menurut istilah, nabi ialah seorang laki-laki yang diberi khabar (wahyu) oleh Allah berupa syari’at yang dahulu (sebelumnya), ia mengajarkan kepada orang-orang di sekitarnya dan umatnya (penganut syariat ini).
Adapun rasul secara bahasa ialah orang yang mengikuti berita-berita orang yang mengutusnya; diambil dan ungkapan جاءت ألإبل رسلا (unta itu datang secara beriringan). Rasul adalah nama bagi risalah atau bagi yang diutus. Sedangkan irsal adalah pengarahan.
Menurut istilah, rasul ialah seorang laki-laki merdeka yang diberi wahyu oleh Allah s.w.t. dengan membawa syariat dan ia diperintahkan untuk menyampaikannya kepada umatnya, baik orang yang tidak ia kenal maupun yang memusuhinya.
Perbezaan Antara Nabi dan Rasul
a) Kenabian (nubuwah) adalah syarat kerasulan (risalah). Maka tidak boleh menjadi rasul orang yang bukan nabi. Kenabian lebih umum dari kerasulan. Setiap rasul pasti nabi, tetapi tidak setiap nabi adalah rasul.
b) Rasul membawa risalah kepada orang (kaum) yang tidak mengerti tentang agama dan syariat Allah s.w.t. atau kepada kaum yang telah mengubah syariat dan agama, untuk mengajari mereka atau mengembalikan mereka ke dalam syariat Allah. Dia adalah hakim bagi mereka. Sedangkan nabi diutus dengan dakwah kepada syariat nabi/rasul sebelumnya.
II. NUBUWAH ADALAH ANUGERAH ILAHI
Kenabian bukanlah suatu tujuan yang dapat diraih dengan cara-cara tertentu, sehingga boleh dicapai oleh orang yang bersungguh-sungguh, juga bukanlah pangkat yang dapat ditempuh melalui perjuangan. Akan tetapi ia adalah kedudukan yang tinggi dan pangkat istimewa yang diberikan Allah kerana karunianya kepada siapa saja dan makhluk-Nya yang Dia kehendaki. Maka Dia mempersiapkannya agar mampu memikulnya. Dia menjaganya dari pengaruh syaitan dan memeliharanya dari kemusyrikan kerana rahmat dan kasih sayang-Nya semata, tanpa ada upaya yang ia kerahkan untuk mendapatkan dari untuk mencapai darjat kenabian itu. Bahkan ia hanyalah kurniaan Allah dan nikmat Ilahi semata, sebagaimana firman Allah,
“Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, iaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dan orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih.” (Maryam: 58)
Allah berkata kepada Musa a.s.:
“Allah berfirman, Hai Musa, sesungguhnya aku memilih (melebihkan) kamu dari manusia yang lain (di masamu) untuk membawa risalah-Ku dan untuk berbicara langsung dengan-Ku, oleh itu berpegang teguhlah kepada apa yang Aku berikan kepadamu dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur.” (Al-A’raf:
144).
Allah menceritakan ucapan Yakub kepada anaknya, Yusuf a.s. dengan firman-Nya,
“Dan demikianlah Tuhanmu, memilih kamu (untuk menjadi nabi).” (Yusuf: 6)
Sebagaimana halnya Allah mengingkari orang yang memandang bahwa salah satu dari dua orang besar di Makkah dan Thaif, yaitu al-Walid Ibnul Mughirah dan Urwah bin Masud ats-Tsaqafi, lebih berhak (pantas) untuk menjadi nabi. Hal itu terjadi ketika Allah mewahyukan kepada Nabi Muhammad, dan menjelaskan bahwa Dia adalah Rabb, Penguasa yang berhak melakukan apa saja serta yang mengurusi pembagian rezeki bagi semua makhluk-Nya.
Jadi sangatlah tidak benar manakala ada seseorang yang ikut campur tangan dalam menentukan siapa yang berhak menerima rahmat kenabian dan kerasulan. Maka Allah bercerita tentang mereka,
“Dan mereka berkata, ‘Mengapa al-Qur’an ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Makkah dan Tha’if) ini?’ Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia...,” (Az-Zukhruf: 31-32)
Allah telah mengancam orang-orang yang melampaui batas yang mengatakan, “Tidaklah kami beriman sebelum diberi seperti apa yang telah diberikan kepada rasul-rasul Allah,’ dengan firman-Nya,
“Apabila datang sesuatu ayat kepada mereka, mereka berkata, ‘Karni tidak akan beriman sehingga diberikan kepada kami yang serupa dengan apa yang telah diberikan kepada rasul-rasul Allah’. Allah lebih rnengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan. Orang-orang yang berdosa, nanti akan ditimpa kehinaan di sisi Allah dan siksa yang keras disebabkan mereka selalu membuat tipu daya.” (Al-An’am: 124)
Dalam ayat-ayat terdahulu terdapat petunjuk yang jelas bahwa kenabian itu tidak boleh diperoleh karena kebangsawanan atau karena jerih payahnya, akan tetapi ia adalah nikmat dari Allah serta rahmat yang dianugerahkan kepada sebahagian makhluk-Nya berdasarkan ilmu dan hikmah-Nya dan tidak diberikan kepada orang yang mencari atau yang mengharapkannya.
III. SIFAT-SIFAT DAN MUKJIZAT RASUL
Pertama: Sifat-sifat Para Rasul
Dan definisi terdahulu kita mengetahui bahwa rasul adalah seorang manusia. Laki-laki merdeka yang Allah memilihnya dari nasab pilihan. Dia menjadikannya orang yang paling sempurna akalnya, paling suci jiwanya dan paling utama penciptaannya, supaya menunaikan pekerjaan-pekerjaan besar di antaranya menerima wahyu, menaatinya, menyampaikannya serta memimpin umat.
Maka para rasul adalah panutan/ikutan dalam hal sifat dan akhlak mereka. Dan pembicaraan tentang sifat-sifat mereka panjang sekali, tetapi diantaranya yang terpenting adalah:
a) Siddiq (jujur dan benar)
Allah memberitahukan tentang para rasulNya,
“Mereka berkata, ‘Aduhai celakalah kami! Siapakah yang mernbangkitkan kami dari ternpat tidur kami (kubur)?’ Inilah yang dijanjikan (Tuhan) yang Maha Permurah dan benarlah rasul-rasul-Nya.” (Yasin: 52)
Sebagaimana Dia telah menyifati sebagian mereka dengan sifat itu; tentang Nabi Ibrahim a.s. Dia berfirman,
“Ceritakanlah (hai Muharnrnad) kisah Ibrahim di dalarn al-Kitab (al-Qur’an) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat, membenarkan lagi seorang nabi.” (Maryam: 41)
Tentang Ismail Allah berfirman,
“Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam al-Qur’an. Sesungguhnya Ia adalah seorang yang benar dan dia adalah seorang rasul dan nabi.” (Maryam: 54)
Tentang Idris. Dia berfirman,
“Dan ceritakanlah (hal Muhammad kepada mereka kisah) Idris (yang tersebut) di dalam al-Qur’an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang nabi.” (Maryam:56)
Tentang nabi kita Muhammad, Dia berfirman,
“Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (AzZumar: 33)
Tidaklah diragukan bahwa sifat shidq adalah inti risalah dakwah; dengannya akan luruslah segala urusan dan berbuahlah amal perbuatan. Sedangkan kadzib (bohong, dusta) adalah sifat kekurangan yang mustahil bagi manusia pilihan dan merupakan maksiat yang justru mereka peringatkan.
b) Sabar
Allah mengutus para rasul-Nya kepada manusia sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, mengajak mereka untuk taat kepada Allah serta memperingatkan agar tidak mendurhakaiNya. Ini adalah tugas berat dan sulit, tidak semua orang mampu memikulnya, akan tetapi orang-orang pilihanlah yang pantas dan mampu untuk itu. Kerananya para rasul Allah s.w.t. menemui bermacam-macam kesulitan dan beranekaragam gangguan, tetapi mereka tidak patah semangat kerananya, juga hal itu tidak membuat mereka melangkah surut ke belakang.
Allah telah mengisahkan kepada kita sebahagian dan nabi-nabi-Nya, sekaligus berbagai rintangan yang menghadangnya di jalan dakwah, juga sikap sabar mereka untuk memenangkan yang hak dan meninggikan kalimat Allah. Allah telah memerintahkan Nabi Muhammad untuk bersabar, sebagai bentuk peneladanan kepada para Ulul Azmi. Allah berfirman,
“Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dan rasul-rasul yang telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (adzab) bagi mereka. Pada hari mereka melihat adzab yang diancamkan kepada mereka, mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (inilah) suatu pelajaran yang cukup, maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik.” (Al-Ahqaf: 35)
Tentu kita mendapat pelajaran dengan apa yang dikisahkan Allah tentang Nabi Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa dengan umatnya yang menentang dan mengganggu, namun demikian mereka tetap bersabar, teguh dan tegar sampai Allah menurunkan putusanNya.
Demikian pula dengan perjalanan hidup penutup para nabi yakni Muhammad, di dalamnya terdapat teladan agung dalam hal kesabaran dan ketabahan. Kaumnya telah mendustakan, menghina, mengganggu dan memulaukannya, tetapi beliau bersabar menghadapinya sampai Allah memenangkan agama-Nya. Mengenai rincian kisah-kisah tersebut sangatlah panjang, tidak cukup dalam buku dan risalah yang hanya beberapa halaman dan di dalam al-Qur’an hal itu juga telah dikisahkan.
Kedua: Mukjizat Para Rasul
Allah menciptakan manusia dan membekalinya dengan akal. Akal inilah yang menjadi syarat taklif. Karena akal ini manusia akan dihisab amalnya, dengan akal ini ia boleh membedakan barang-barang dan memisahkan antara yang berguna dengan yang berbahaya. Jika datang seseorang yang mengatakan, ia adalah seorang rasul (utusan) Allah, guna memberi hidayah kepada manusia serta memimpin mereka menuju kedamaian dan kebahagiaan dunia dan akhirat, maka hal ini berarti menyangkut keselamatan bagi manusia atau justeru kehancurannya. Karena itu setiap orang wajib melihat kondisi da’i, dan dakwahnya.
Allah telah mengistimewakan para rasul dan segenap makhluk biasa. Allah menjaganya dan tipu muslihat setan. Setan tidak bisa mengubah fitrah mereka. Maka mereka berbeda dengan kaum dan umatnya, karena sirah (perjalanan) hidup mereka yang harum dan fitrah mereka yang bersih.
Apabila hal itu digabungkan dengan ajaran mereka, maka akan menjadi bukti kuat tentang kebenaran mereka bagi orang-orang yang Allah telah menyinari mata hatinya. Allah telah mendukung mereka sebagai tambahan atas hal tersebut dengan sesuatu yang memaksa akal untuk mempercayainya. Maka para rasul itu datang dengan membawa mukjizat-mukjizatnya yang hebat; tidak mampu mendatangkannya kecuali Allah s.w.t., karena seluruh makhluk adalah milik-Nya, Dialah yang menakdirkan sesuatu menurut takaran-Nya, Dia menjadikan setiap makhluk berjalan sesuai dengan aturan-aturan tertentu yang tidak seorang pun dapat mengubahnya. Jika Allah hendak mendukung seorang hamba sebagai bukti atas kenabiannya, maka Allah menganugerahkan padanya sesuatu yang tidak mungkin boleh dilakukannya secara sempuma kecuali Allah s.w.t., baik berupa ilmu, kekuatan atau kecukupan. Allah s.w.t., Dialah yang mengata segalanya, berkuasa atas segalanya dan Dia Mahakaya, tidak memerlukan kepada alam semesta.
Allah s.w.t. memerintahkan Rasul-Nya Muhammad agar berlepas diri dari mendakwahkan tiga hal:
“Katakanlah, ‘Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku’.” (Al-An am: 50)
Apabila terjadi melalui tangan seorang rasul sesuatu dari hal tersebut di atas maka ia adalah semata-mata perbuatan Allah, karena ia di luar kemampuan manusia. Maka ia adalah bukti nyata, manakala digabungkan dengan urusan rasul tersebut dengan rasul-rasul sebelumnya berdasarkan dakwahnya. Maka wajib atas umatnya mengimani serta mengikutinya. Jika tidak maka wajiblah adzab Allah atas mereka. Tanda-tanda dan bukti-bukti kebenaran mereka sudah jelas; ada bukti yang utama dan ada yang menjadi penguat bagi bukti utama atas kebenarannya, serta memperkukuh keimanan orang-orang mukmin terhadapnya.
Mukjizat rasul didefinisikan sebagai segala sesuatu yang luar biasa yang terjadi melalui tangan-tangan para nabi Allah dan rasul-Nya dalam bentuk sesuatu yang membuat manusia tidak boleh mendatangkan semisalnya.
Melalui tangan para nabi dan rasul telah terjadi mukjizat-mukjizat yang memaksa akal yang sihat untuk tunduk dan mempercayai apa yang dibawa oleh para rasul, baik itu karena diminta oleh kaumnya mahupun tidak. Mukjizat-mukjizat tersebut tidak lepas dari bentuk:
a) Ilmu, seperti pemberitahuan tentang hal-hal ghaib yang sudah terjadi ataupun yang akan terjadi; umpamanya pengkhabaran Nabi Isa a.s kepada kaumnya tentang apa yang mereka makan dan apa yang mereka simpan di rumah-rumah mereka. Sebagaimana juga pengkhabaran Nabi Muhammad tentang fitnah-fitnah atau tanda-tanda Hari Kiamat yang bakal terjadi, sebagaimana yang banyak dijelaskan dalam hadits-hadits.
b) Kemampuan dan kekuatan, seperti mengubah tongkat menjadi ular besar, yakni mukjizat Nabi Musa a.s. yang diutus kepada Fir’aun dan kaumnya. Kemudian penyembuhan penyakit buta, kulit belang-belang putih (sopak) serta menghidupkan orang-orang yang sudah mati, yang kesemuanya adalah mukjizat Nabi Isa a.s. Juga terbelahnya rembulan menjadi dua yang merupakan salah satu tanda kebenaran Rasul kita s.a.w.
c) Kecukupan, misalnya perlindungan bagi Rasulullah s.a.w., dan orang-orang yang menginginkan kejahatan kepadanya. Hal ini sering terjadi, ketika di Makkah sewaktu malam hijrah, ketika di dalam gua, lalu dalam perjalanan ke Madinah ketika bertemu dengan Suraqah bin Malik, lalu di Madinah ketika orang-orang Yahudi ingin menculiknya dan lain-lain. Contoh-contoh ini menunjukkan bahwa Allah mencukupi Rasul-Nya dengan perlindungan, sehingga tidak memerlukan lagi kepada perlindungan makhluk lain.
IV. BERIMAN KEPADA SEGENAP RASUL
Beriman kepada segenap rasul ertinya membenarkan dengan seyakin-yakinnya bahawa Allah mengutus seorang rasul pada setiap umat untuk mengajak mereka beribadah kepada Allah semata-mata, tanpa menyekutukan-Nya dan untuk kufur kepada hal yang selain-Nya. Serta kepercayaan bahawa semua rasul adalah benar, mulia, luhur, mendapat petunjuk serta menunjuki orang lain. Mereka telah menyampaikan apa yang kerananya mereka diutus oleh Allah, tanpa menyembunyikan atau mengubahnya. Allah berfirman,
“...maka tidak ada kewajiban atas para rasul, selain dari menyampaikan (amanat Allah) dengan terang. Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu,’ maka di antara umat itu ada orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (An-Nahl: 35-36)
Dan mempercayainya bahwa sebahagian mereka lebih utama sebagian yang lain, Allah berfirman,
“Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dan) mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat. Dan kami berikan kepada Isa putra Maryam beberapa mukjizat serta Kami perkuat dia dengan Ruhul Qudus.” (al-Baqarah: 253)
Juga percaya bahwa Allah telah menjadikan Nabi Ibrahirn dan Nabi Muhammad sebagai dua orang Khalil (kekasih) Allah. Dan Allah telah berbicara langsung dengan Musa a.s. serta telah mengangkat Nabi Idris pada tempat yang tinggi.
Iman kepada mereka semua adalah wajib. Siapa yang mengingkari seorang dari mereka maka ia telah kufur kepada semuanya, dan bererti pula telah kufur kepada Tuhan yang mengutus mereka, iaitu Allah. Allah berfirman,
“Rasul telah beriman kepada al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan), ‘Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dan rasul-rasul-Nya’ dan mereka mengatakan, ‘Kami dengar dan kami taat.’ (Mereka berdoa), ‘Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali’.” (A1-Baqarah: 285)
Dan Allah berfirman,
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud membezakan antara Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan, ‘Kami beriman kepada yang sebahagian (dari rasul-rasul itu), dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain),’ serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (lain) di antara yang demikian (iman atau kafir), merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan. Orang-orang yang beriman kepada Allah dan para rasul-Nya dan tidak membeza-bezakan seorang pun di antara mereka, kelak Allah akan memberikan kepada mereka pahalanya. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An-Nisa: 150-152)
Sebagaimana kita wajib beriman kepada mereka secara umum, nabi yang kita ketahui mahupun yang tidak, maka begitu pula kita wajib mengimani secara khusus kepada para rasul yang disebutkan namanya oleh Allah. Telah disebutkan di dalam al-Quran lebih dari 20 nama rasul iaitu: Nuh, Idris, Shalih, Ibrahim, Hud, Luth, Yunus, Ismail, Ishaq, Yaqub, Yusuf, Ayyub, Syu’aib, Musa, Harun, Ilyasa’, Dzulkifli, Daud, Zakariya, Sulaiman, Ilyas, Yahya, Isa dan Muhammad. Dengan meyakini bahwa Allah juga mempunyai rasul-rasul selain mereka. Sebagaimana firman-Nya,
“Dan sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu...” (Ghafir/Mukmin 40: 78)
Inti dari iman kepada mereka adalah taat, patuh dan tunduk kepada mereka dengan mengikuti perintahnya dan menjauhi larangannya, dan mengharungi kehidupan ini berdasarkan manhaj mereka; kerana mereka adalah para penyampai wahyu Allah, dan mereka adalah suri tauladan bagi umatnya. Allah memelihara mereka dari kesalahan, Allah berfirman kepada Nabi-Nya,
“Katakanlah, ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’ Katakanlah, ‘Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir’.” (Ali Imran: 31-32)
Maka taat kepada Allah dan beribadah kepada-Nya adalah dengan mengikuti mereka serta bertauladan kepada mereka.
Bukanlah termasuk iman kepada mereka jika pengangkatan dan pengagungan mereka melebihi batas kedudukan yang telah Allah berikan kepada mereka. Mereka adalah hamba dan jenis manusia yang Allah pilih dan siapkan untuk memikul risalah-Nya. Tabiat mereka adalah tabiat manusia. Mereka tidak memiliki hak uluhiyah (Ketuhanan). Mereka tidak mengetahui yang ghaib kecuali apa yang telah Allah beritahukan kepada mereka. Allah berfirman, memerintah Nabi Muhammad s.a.w., untuk menyampaikan kepada umatnya,
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku...” (Al-Kahfi: 110)
“Katakanlah, ‘Aku tidak mengatakan kepadamu, bahawa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak ‘mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku’.” (Al-Anam: 50)
Allah telah mengisahkan ucapan Nabi Nuh kepada kaumnya,
“Dan aku tidak mengatakan kepada kaum (bahawa), ‘Aku mempunyai gudang-gudang rezeki dan kekayaan dari Allah, dan aku tiada mengetahui yang ghaib,’ dan tidak (pula) aku mengatakan, ‘Bahwa sesungguhnya aku adalah malaikat,’ dan tidak juga aku mengatakan kepada orang-orang yang dipandang hina oleh penglihatanmu, ‘Sekali-kali Allah tidak akan mendatangkan kebaikan kepada mereka.’ Allah lebih mengetahui apa yang ada pada diri mereka; sesungguhnya aku, kalau begitu benar-benar termasuk orang-orang yang zhalim.” (Hud: 31)
Maka rasul pertama sampai rasul terakhir semuanya menafikan hak-hak istimewa ketuhanan dari diri mereka. Semuanya menjelaskan bahawa mereka bukanlah malaikat, tidak mengetahui yang ghaib dan tidak memiliki perbendaharaan Allah. Akan tetapi mereka adalah manusia yang diistimewakan oleh Allah s.w.t dengan menerima wahyu, dan mencapai puncak derajat kemanusian iaitu ubudiyah (penghambaan) yang murnii kepada allah Rabbul ‘alamin...
V. BERIMAN KEPADA MUHAMMAD SEBAGAI NABI DAN RASUL
Allah telah menyempurnakan agama ini untuk kita, dan telah menyempurnakan nikmat bagi kita, juga telah redha Islam sebagai agama kita; melalui tangan Rasul yang diutus sebagai rahmat bagi semesta alam, penutup para nabi dan rasul, Muhammad s.a.w. Beliau adalah Rasul Allah untuk bangsa jin dan manusia, sebagai pemberi khabar gembira dan ancaman, yang menyeru kepada Allah dengan seizin-Nya dan sebagai lampu yang menerangi.
Maka setiap orang yang mengetahui kerasulannya s.a.w., tetapi tidak mengimaninya, ia berhak menerima siksa Allah seperti orang-orang kafir lainnya. Allah berfirman,
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuredhai Islam itu menjadi agama bagimu.” (Al-Maidah: 3)
“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (AlAhzab: 40)
Sedangkan hadits yang menunjukkan khatmun nubuwwah (penutup kenabian) maka banyak sekali, di antaranya adalah sabda beliau,
“Sesungguhnya aku mempunyai banyak nama, aku adalah Muhammad, aku adalah Ahmad, aku adalah al-Mahi (penghapus) yang mana Allah menghapus kekufuran dengan diriku, aku adalah al-Hasyir (yang mengumpulkan) di mana manusia nanti akan dikumpulkan dihadapanku, aku adalah al-Aqib; Aqib adalah yang sesudahnya tidak ada nabi.” (HR. Muslim IV! 1828, lihat juga alBukhari VI/188)
Juga Sabda Rasulullah s.a.w.,
“Aku diistimewakan di atas para nabi dengan enam perkara: aku diberi jawami’ul-kalim (ungkapan yang mencakup makna yang luas), aku dimenangkan dengan rasa ketakutan (di hati musuh-musuhku), untukku dihalalkan ghanimah (rampasan perang), bagiku dijadikan bumi sebagai alat bersuci dan tempat sujud, dan aku diutus kepada makhluk semuanya, dan denganku para nabi ditutup.” (HR. Muslim 1/371, lihat Musnad Ahmad 11/412)
Dalam beberapa ayat dan hadits di atas terdapat dalil yang nyata dan jelas bahwa Allah s.w.t. telah menyempumakan nikmat-Nya untuk kita dengan menunjukkan kepada jalan yang litrus, dan telah menyempurnakan agama kita sehingga kita tidak perlu lagi kepada yang lainnya, juga tidak kepada nabi lain selain dari nabi kita s.a.w., karena Allah telah menjadikannya sebagai penutup para nabi, tidak ada yang halal kecuali yang sudah dihalalkannya, dan tidak ada yang haram melainkan yang sudah diharamkannya, serta tidak ada agama kecuali apa yang telah disyariatkannya. Beliau adalah utusan Allah kepada makhluk semuanya. Allah berfirman, memerintahkan Rasul-Nya untuk menyampaikannya,
“Katakanlah, ‘Hal manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua." (Al-A’raf: 158)
“Dan al-Qur’an ini diwahyukan kepadaku supaya dengan ia aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai al-Qur’an (kepadanya).” (Al-An’am: 19)
“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan.” (Saba’: 28)
Rasulullah bersabda sebagaimana dalam hadits di atas, “Dan aku diutus kepada makhluk secara keseluruhan.” (HR. Muslim dan Ahmad)
Dan bersabda,
“Demi Allah yang jiwa Muhammad ada di tangan-Nya! Tidak seorang pun mendengar tentang aku dan umat (manusia) ini, seorang Yahudi atau pun Nasrani, kemudian meninggal dunia dan tidak beriman kepada apa yang aku diutus kerananya, kecuali termasuk para penduduk neraka.” (HR. Muslim 1/134)
Jadi syahadah atau persaksian atas keesaan Allah dan kerasulan Muhammad adalah rukun pertama dan rukun Islam, yang Allah tidak menerima agama selainnya. Sebagaimana Rasulullah s.a.w. bersabda,
“Islam itu dibangun di atas lima rukun: Menyaksikan bahwa tiada sesembahan yang haq selain Allah dan bahawa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, mendirikan shalat, membayar zakat dan haji ke Baitullah serta puasa Ramadhan.” (HR. Muslim 1/45, lihat al-Bukhari 1/13)
Untuk menegakkan hujjah bagi segenap manusia sampai Hari Kiamat, Allah menjadikan al-Quranul Karim sebagai dalil dan bukti terkuat atas kenabian Muhammad s.a.w. Ia adalah mukjizat abadi, Allah menjamin untuk menjaga dan melindunginya dari tangan-tangan jahil dan kotor agar tetap manjadi bukti kebenaran Muhammad dan hujjah bagi Allah atas makhluk-Nya sampai Hari Kiamat.
Tuesday, January 20, 2009
Thursday, January 15, 2009
Mengenal Siapa Yahudi
Negara Haram Israel Tidak Akan Berkekalan
Sejarah telah membuktikan bahawa kaum Yahudi merupakan kaum yang sentiasa ditindas dan ditekan. Peristiwa-peristiwa yang berlaku sepanjang zaman semenjak dari zaman Nabi Allah SWT Musa a.s. sehinggalah zaman mereka berada di Palestin selepas itu sentiasa menyaksikan pembunuhan kaum Yahudi secara beramai-ramai oleh musuh-musuh mereka.
Melalui peristiwa-peristiwa yang berlaku itu, kita selaku umat Islam yakin bahawa kependudukan mereka secara haram di negara Palestin akan berakhir tidak lama lagi.
Mereka akan dihalau keluar dari negara itu sama sepertimana datuk nenek mereka dipaksa keluar dari negara itu. Perkara ini telah dijanjikan oleh Allah SWT menerusi banyak ayat al-Quran, contohnya dalam surah Al-A'raf ayat 167 yang bermaksud:
"Dan (ingatlah wahai Muhammad) ketika Tuhanmu memberitahu: Bahawa sesungguhnya Ia akan menghantarkan kepada kaum Yahudi itu, (terus menerus) hingga hari kiamat, kaum-kaum yang akan menimpakan mereka dengan azab sengsara yang seburuk-buruknya (disebabkan kejahatan dan kekufuran mereka). Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat azab seksa-Nya, dan sesungguhnya Dia juga Maha Pengampun lagi Maha Mengasihani."
Kejahatan Bangsa Yahudi Menurut Al-Quran
Ayat di atas menyebutkan bahawa azab dan tekanan akan terus menimpa mereka hingga ke hari kiamat. Berita-berita masa lampau tentang mereka sebelum Islam perlu diberitahu kepada mereka agar mereka sedar bahawa masa tersebut akan tiba dan kebenaran isi kandungan al-Quran sebagai wahyu Ilahi akan terbukti.
Ayat-ayat seperti ini memberi satu kekuatan berupa sokongan moral kepada umat Islam secara amnya dan bangsa Arab Islam khasnya agar berusaha memperkuatkan diri ke arah merealisasikan fakta ini.
Penindasan Ke Atas Yahudi Sebelum Islam
Tersebut dalam lipatan sejarah penjajahan ke atas Yahudi telah dimulakan oleh Raja Fir'aun Nikho dari Mesir. Selepas itu untuk kali keduanya mereka telah dijajah lagi oleh Raja Nabukadnesar (Bukhti-Nashar) dari Babil. Semasa penjajahan tersebut, raja dan tenteranya telah membinasakan habis-habisan Jerussalam termasuk Baitul Maqdis yang didirikan oleh Nabi Sulaiman a.s. dan menawan majoriti rakyatnya .
Inilah yang disebutkan oleh Allah SWT dalam ayat surah al-Isra' ayat yang bermaksud:
"Dan Kami menyatakan kepada Bani Israel dalam Kitab itu: "Sesungguhnya kamu akan melakukan kerosakan di bumi (Palestin) dua kali, dan sesungguhnya kamu akan berlaku sombong angkuh dengan melampau. Maka apabila sampai masa janji (membalas kederhakaan kamu) kali yang pertama dari dua (kederhakaan) itu, Kami datangkan kepada kamu hamba-hamba Kami yang kuat gagah dan amat ganas serangannya lalu mereka rnenjelajah di segala ceruk rantau (membunuh dan membinasakan kamu); dan (sebenarnya peristiwa itu) adalah satu janji yang tetap berlaku".
Seterusnya pada tahun 203 sebelum Masihi pula menyaksikan penjajahan yang lebih teruk oleh raja-raja Syria malahan membawa kepada penahanan Yahuza yang menjadi raja Yahudi pada masa itu. Orang-orang lelaki dijadikan hamba abdi, manakala cukai-cukai yang tinggi turut dikenakan ke atas mereka.
Tidak cukup di situ Allah SWT membinasakan mereka apabila Rom menjajah pula selepas itu. Negara Palestin telah dimasukkan di bawah negara mereka. Pada tahun 70 Masihi, golongan Yahudi telah melakukan pemberontakan ke atas penjajah mereka iaitu Rom. Pemberontakan ini menemui jalan buntu. Akibatnya Rom telah mengeluarkan arahan kepada gabenornya di situ yang bernama Titus untuk membakar rumah-rumah ibadat Yahudi dan membunuh kebanyakan penduduk Yahudi dan menjual yang lainnya sehagai hamba.
Tidak lama selepas itu, Jerussalem pesat membangun semula. Kaum Yahudi mengambil kesempatan untuk memberontak buat kali kedua tetapi masih gagal. Adrian yang menjadi raja Rom akhirnya memerintahkan agar bandar Jerussalem dimusnahkan habis-habisan dan rakyatnya dibunuh. Ditaksirkan lebih 500,000 jiwa telah terkorban dalam peristiwa itu .
Penindasan Ke Atas Yahudi Selepas Islam
Apabila Nabi Muhammad SAW berhijrah ke Madinah, kaum Yahudi telah menyusun beberapa konspirasi jahat ke atas Islam. Akibatnya, pelbagai tindakan tegas telah dikenakan terhadap mereka sehingga membawa kepada pembunuhan beramai-ramai kaum Yahudi dan pengusiran keluar dari negara Islam Madinah.
Kemudian di akhir kurun ke 13, penindasan ke atas mereka masih berterusan. Pada kali ini negara Eropah pula yang bertindak menekan mereka. Sejarah telah menunjukkan bahawa kaum Yahudi pernah dibunuh di Sepanyol dan Portugal. Bahkan kepercayaan agama Kristian lama beranggapan bahawa menekan Yahudi adalah melambangkan keimanan yang sebenarnya.
Tekanan yang dihadapi menyebabkan Yahudi mencari perlindungan di Andalus. Pemimpin-pemimpin Islam di Andalus pada waktu itu memberi perlindungan politik kepada Yahudi sebagai satu cara untuk berdakwah kepada mereka. Namun panas yang disangka sampai ke petang, rupanya hujan di tengahari. Nikmat perlindungan rupa-rupanya tidak lama. Penganut-penganut Kristian telah berjaya menundukkan kuasa Islam di Andalus. Sekali lagi penyembelihan orang-orang Yahudi berlaku secara beramai-ramai. Mereka di halau keluar dari bandar-bandar seperti Balensia, Qordova, Gibraltar, Barcelona dan juga dari tempat-tempat lain. Seorang paderi besar Katolik di situ yang bernama Hernando Martins telah menyampaikan ucapan anti Yahudi dan mengarahkan agar unsur-unsur termasuk penganutnya dihapuskan.
Peperangan Salib telah meletus di Andalus dan kebanyakan orang yahudi dihapuskan. Ramai dari kalangan mereka telah dipaksa memeluk Kristian. Dalam tempoh kurang dari bulan, setiap individu yang enggan masuk Kristian akan dihalau ke tempat lain luar dari Andalus. Sesiapa yang melanggar perintah akan dihukum bunuh .
Kebanyakan orang Yahudi yang enggan memeluk Kristian telah meninggalkan Andalus. Malangnya di tengah jalan para lanun telah menangkap mereka dan mereka dijadikan hamba untuk diperniagakan. Sesiapa yang terlepas pula jarang yang dapat hidup kerana diserang kelaparan dan penyakit berjangkit seperti taun dan lain-lain.
Walaupun menghadapi pelbagai penindasan, golongan Yahudi akhirnya berjaya juga menaja satu perhimpunan yang menghimpunkan sekitar 80,000 orang ahli. Mereka mengambil keputusan untuk berhijrah ke Portugal setelah mendapat pelawaan rajanya yang beragama Kristian dan bersikap terbuka. Setibanya di sana, raja yang selama ini bersikap terbuka, tiba-tiba berubah menjadi anti Yahudi selepas dipengaruhi golongan gereja yang selama ini menentang mereka. Semua golongan lelaki dewasa Yahudi telah dipaksa meninggalkan negara Portugal, manakala wanita dan anak-anak dipaksa menukar agama kepada Kristian.
Tekanan dan kezaliman ke atas Yahudi sebenarnya tidaklah terbatas di negara-negara seperti Sepanyol, Portugal dan Rom sahaja.Malahan semua negara Eropah Kristian telah mengambil sikap anti-Yahudi secara terang-terangan. Di bawah dinyatakan peristiwa-peristiwa kezaliman yang berlaku keatas golongan Yahudi:
Di England, King Edwaard telah menghalau Yahudi beramai-ramai pada tahun 1290.
Di Perancis, King Phillip telah menghalau mereka dari Perancis pada tahun 1306. Menurut fakta sejarah, Raja Phillip kemudiannva telah membenarkan sebahagian daripada mereka untuk pulang ke Perancis selepas itu, tetapi keputusan diambil untuk menghalau semula mereka pada tahun 1394.
Di Hungary, golongan Yahudi telah dibuang negara beramai-ramai. Tetapi mereka memberanikan diri pulang semula sebelum dihalau kembali pada tahun 1582.
Di Belgium, mereka dihalau beramai-ramai pada tahun 1370.
Di negara Czechoslovakia pula, puak Yahudi dihalau pada tahun 1380. Mereka kembali semula untuk bermastautin pada tahun 1592. Malangnya pada tahun 1744, Queen Maria Theressa telah mengarahkan agar dihalau semula golongan Yahudi tersebut.
Di negara Austria pula, Raja Bright ke-5 telah menghalau mereka dari negara itu pada tahun 1420.
Di Holland, mereka dihalau dari Outricht pada tahun 1444.
Di Itali, mereka dihalau dari Napoli dan Sardina pada tahun 1540.
Di Jerman, golongan Yahudi dihambat dari Bavaria pada tahun 1551. Kemudian telah berlaku penindasan secara berterusan ke atas mereka oleh masyarakat berfahaman Nazi. Beratus ribu Yahudi telah terkorban dalam keganasan itu.
Di Rusia pula, rakyat tempatan telah berkerjasama menghalau orang-orang Yahudi pada tahun 1510. Golongan Yahudi beransur-ansur pulang selepas itu dengan harapan penduduk tempatan telah memaafkan mereka. Namun begitu, tekanan masih berterusan sehingga tentera Rusia turut masuk campur untuk menyembelih mereka beramai-ramai di
Ukraine sepanjang tahun 1919.
Menurut kajian, lebih dari 100,000 Yahudi telah diragut nyawanya termasuk lelaki dan perempuan serta anak-anak mereka. Jalanraya telah dibasahi dengan darah mereka. Tentera telah melakukan kekejaman di luar batasan pemikiran manusia di samping mencincang lumat anggota badan mereka.
Mengapa Yahudi Ditindas?
Antara sebab penindasan dilakukan ke atas mereka adalah kerana sikap sombong dan tidak setia pada perjuangan. Masyarakat Kristian Eropah menyedari sikap yang ditunjukkan itu. Golongan Yahudi merupakan golongan yang tidak pernah kenal erti berterima kasih. Walaupun hanya menumpang di negara orang, perangai mereka tidak ubah seperti tuan yang memeras dan menganiaya golongan peribumi negara itu. Kemahiran berniaga telah menjadikan golongan Yahudi sombong dan tidak berperikemanusiaan.
Orang yang meminjam dan berurus niaga dengan mereka terjebak dalam sistem riba. Ekonomi yang berasaskan riba telah dimulakan oleh korporat-korporat Yahudi yang berjaya untuk memastikan terus menjadi kaya tanpa memikirkan nasib si miskin.
Perkara ini tidaklah menghairankan kerana menurut kepercayaan mereka seperti yang dijelaskan di dalam 'Talmud' iaitu tafsiran kepada kitab 'Taurat', ada dinyatakan secara terang-terangan bahawa riba halal dengan urus niaga bersama bukan Yahudi. Ini disebabkan Yahudi adalah anak-anak Allah SWT, manakala selain mereka adalah binatang berupa anjing dan babi. Justeru itu, mereka berhak melakukan apa sahaja demi kepentingan peribadi.
Disebut dalam Talmud lagi:
Pemilikan harta-harta oleh selain Yahudi adalah tidak sah. Jadi sesiapa sahaja di kalangan Yahudi boleh merampas hak tersebut.
Allah SWT (SWT) menganugerahkan ke atas mereka hak untuk bertindak sesuka hati ke atas bangsa-bangsa lain.
Kedudukan Yahudi ke atas bangsa-bangsa lain sama seperti kedudukan manusia ke atas binatang. Bangsa-bangsa lain memiliki sifat-sifat kebinatangan. Tiada siapa yang dapat mengajar mereka melainkan Yahudi.
Riba diharamkan sesama Yahudi, tetapi dihalalkan kepada selain mereka. Malahan menurut perlembagaan Talmud itu, HARAM memberikan pinjaman kepada bangsa lain tanpa dikenakan riba.
Penaklukan Palestin Oleh Rejim Haram Yahudi
Sebab utama penaklukan negara Palestin sebenarnya berpunca dari perancangan yang teliti oleh Persatuan Freemason Antarabangsa. Freemason melihat usaha begini penting bagi mengelakkan pupusnya spesis Yahudi dari persada dunia.
Takdir Allah SWT membenarkan mereka berjaya menakluk Palestin dengan restu gerakan Kristian sedunia dan bantuan mereka. Perkara ini berlaku dalam keadaan orang-umat Islam terutamanya masyarakat Arab sedang lalai. Persoalannya, sampai bilakah mereka akan berjaya mendominasi negara yang kecil itu. Mereka perlu waspada kepada masyarakat Arab yang berjumlah lebih 100 juta orang itu yang sentiasa mengingati sejarah buruk antara mereka dan Yahudi sepanjang zaman. Masa jua yang akan menentukan segala-galanya.
Penutup
Janji Allah SWT akan sampai bagi memastikan Islam akan tinggi semula dan musuh-musuh Islam terutamanya Yahudi akan kembali ke era kesusahan dan penindasan seperti keadaan asal mereka.Kita meyakini usaha mereka mengumpulkan bangsa mereka di tengah-tengah negara umat Islam itu akan berakhir dengan penghapusan mereka secara terus dari muka bumi Allah SWT ini. Ini bersesuaian dengan maksud sebuah hadith sahih riwayat Al-Bukhari dan Muslim:
"Tidak akan berlaku kiamat sehinggalah orang-umat Islam berperang dengan orang-orang Yahudi (di sebuah tempat). Orang-umat Islam akan membunuh mereka beramai-ramai sehinggakan apabila mereka bersembunyi di sebalik batu dan pokok, tiba-tiba pokok-pokok dan batu-batu itu bersuara menjerit memanggil umat Islam agar membunuh orang-orang Yahudi itu, kecuali pokok 'Gharqad', kerana ia adalah pokok Yahudi".
Janji Nabi pastinya benar. Peristiwa ini akan berlaku bagi menamatkan siri pengkhianatan Yahudi terhadap Islam dan manusia secara keseluruhannya
Sumber : http://www.darulnuman.com/mhikmah/yahudi.html
Negara Haram Israel Tidak Akan Berkekalan
Sejarah telah membuktikan bahawa kaum Yahudi merupakan kaum yang sentiasa ditindas dan ditekan. Peristiwa-peristiwa yang berlaku sepanjang zaman semenjak dari zaman Nabi Allah SWT Musa a.s. sehinggalah zaman mereka berada di Palestin selepas itu sentiasa menyaksikan pembunuhan kaum Yahudi secara beramai-ramai oleh musuh-musuh mereka.
Melalui peristiwa-peristiwa yang berlaku itu, kita selaku umat Islam yakin bahawa kependudukan mereka secara haram di negara Palestin akan berakhir tidak lama lagi.
Mereka akan dihalau keluar dari negara itu sama sepertimana datuk nenek mereka dipaksa keluar dari negara itu. Perkara ini telah dijanjikan oleh Allah SWT menerusi banyak ayat al-Quran, contohnya dalam surah Al-A'raf ayat 167 yang bermaksud:
"Dan (ingatlah wahai Muhammad) ketika Tuhanmu memberitahu: Bahawa sesungguhnya Ia akan menghantarkan kepada kaum Yahudi itu, (terus menerus) hingga hari kiamat, kaum-kaum yang akan menimpakan mereka dengan azab sengsara yang seburuk-buruknya (disebabkan kejahatan dan kekufuran mereka). Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat azab seksa-Nya, dan sesungguhnya Dia juga Maha Pengampun lagi Maha Mengasihani."
Kejahatan Bangsa Yahudi Menurut Al-Quran
Ayat di atas menyebutkan bahawa azab dan tekanan akan terus menimpa mereka hingga ke hari kiamat. Berita-berita masa lampau tentang mereka sebelum Islam perlu diberitahu kepada mereka agar mereka sedar bahawa masa tersebut akan tiba dan kebenaran isi kandungan al-Quran sebagai wahyu Ilahi akan terbukti.
Ayat-ayat seperti ini memberi satu kekuatan berupa sokongan moral kepada umat Islam secara amnya dan bangsa Arab Islam khasnya agar berusaha memperkuatkan diri ke arah merealisasikan fakta ini.
Penindasan Ke Atas Yahudi Sebelum Islam
Tersebut dalam lipatan sejarah penjajahan ke atas Yahudi telah dimulakan oleh Raja Fir'aun Nikho dari Mesir. Selepas itu untuk kali keduanya mereka telah dijajah lagi oleh Raja Nabukadnesar (Bukhti-Nashar) dari Babil. Semasa penjajahan tersebut, raja dan tenteranya telah membinasakan habis-habisan Jerussalam termasuk Baitul Maqdis yang didirikan oleh Nabi Sulaiman a.s. dan menawan majoriti rakyatnya .
Inilah yang disebutkan oleh Allah SWT dalam ayat surah al-Isra' ayat yang bermaksud:
"Dan Kami menyatakan kepada Bani Israel dalam Kitab itu: "Sesungguhnya kamu akan melakukan kerosakan di bumi (Palestin) dua kali, dan sesungguhnya kamu akan berlaku sombong angkuh dengan melampau. Maka apabila sampai masa janji (membalas kederhakaan kamu) kali yang pertama dari dua (kederhakaan) itu, Kami datangkan kepada kamu hamba-hamba Kami yang kuat gagah dan amat ganas serangannya lalu mereka rnenjelajah di segala ceruk rantau (membunuh dan membinasakan kamu); dan (sebenarnya peristiwa itu) adalah satu janji yang tetap berlaku".
Seterusnya pada tahun 203 sebelum Masihi pula menyaksikan penjajahan yang lebih teruk oleh raja-raja Syria malahan membawa kepada penahanan Yahuza yang menjadi raja Yahudi pada masa itu. Orang-orang lelaki dijadikan hamba abdi, manakala cukai-cukai yang tinggi turut dikenakan ke atas mereka.
Tidak cukup di situ Allah SWT membinasakan mereka apabila Rom menjajah pula selepas itu. Negara Palestin telah dimasukkan di bawah negara mereka. Pada tahun 70 Masihi, golongan Yahudi telah melakukan pemberontakan ke atas penjajah mereka iaitu Rom. Pemberontakan ini menemui jalan buntu. Akibatnya Rom telah mengeluarkan arahan kepada gabenornya di situ yang bernama Titus untuk membakar rumah-rumah ibadat Yahudi dan membunuh kebanyakan penduduk Yahudi dan menjual yang lainnya sehagai hamba.
Tidak lama selepas itu, Jerussalem pesat membangun semula. Kaum Yahudi mengambil kesempatan untuk memberontak buat kali kedua tetapi masih gagal. Adrian yang menjadi raja Rom akhirnya memerintahkan agar bandar Jerussalem dimusnahkan habis-habisan dan rakyatnya dibunuh. Ditaksirkan lebih 500,000 jiwa telah terkorban dalam peristiwa itu .
Penindasan Ke Atas Yahudi Selepas Islam
Apabila Nabi Muhammad SAW berhijrah ke Madinah, kaum Yahudi telah menyusun beberapa konspirasi jahat ke atas Islam. Akibatnya, pelbagai tindakan tegas telah dikenakan terhadap mereka sehingga membawa kepada pembunuhan beramai-ramai kaum Yahudi dan pengusiran keluar dari negara Islam Madinah.
Kemudian di akhir kurun ke 13, penindasan ke atas mereka masih berterusan. Pada kali ini negara Eropah pula yang bertindak menekan mereka. Sejarah telah menunjukkan bahawa kaum Yahudi pernah dibunuh di Sepanyol dan Portugal. Bahkan kepercayaan agama Kristian lama beranggapan bahawa menekan Yahudi adalah melambangkan keimanan yang sebenarnya.
Tekanan yang dihadapi menyebabkan Yahudi mencari perlindungan di Andalus. Pemimpin-pemimpin Islam di Andalus pada waktu itu memberi perlindungan politik kepada Yahudi sebagai satu cara untuk berdakwah kepada mereka. Namun panas yang disangka sampai ke petang, rupanya hujan di tengahari. Nikmat perlindungan rupa-rupanya tidak lama. Penganut-penganut Kristian telah berjaya menundukkan kuasa Islam di Andalus. Sekali lagi penyembelihan orang-orang Yahudi berlaku secara beramai-ramai. Mereka di halau keluar dari bandar-bandar seperti Balensia, Qordova, Gibraltar, Barcelona dan juga dari tempat-tempat lain. Seorang paderi besar Katolik di situ yang bernama Hernando Martins telah menyampaikan ucapan anti Yahudi dan mengarahkan agar unsur-unsur termasuk penganutnya dihapuskan.
Peperangan Salib telah meletus di Andalus dan kebanyakan orang yahudi dihapuskan. Ramai dari kalangan mereka telah dipaksa memeluk Kristian. Dalam tempoh kurang dari bulan, setiap individu yang enggan masuk Kristian akan dihalau ke tempat lain luar dari Andalus. Sesiapa yang melanggar perintah akan dihukum bunuh .
Kebanyakan orang Yahudi yang enggan memeluk Kristian telah meninggalkan Andalus. Malangnya di tengah jalan para lanun telah menangkap mereka dan mereka dijadikan hamba untuk diperniagakan. Sesiapa yang terlepas pula jarang yang dapat hidup kerana diserang kelaparan dan penyakit berjangkit seperti taun dan lain-lain.
Walaupun menghadapi pelbagai penindasan, golongan Yahudi akhirnya berjaya juga menaja satu perhimpunan yang menghimpunkan sekitar 80,000 orang ahli. Mereka mengambil keputusan untuk berhijrah ke Portugal setelah mendapat pelawaan rajanya yang beragama Kristian dan bersikap terbuka. Setibanya di sana, raja yang selama ini bersikap terbuka, tiba-tiba berubah menjadi anti Yahudi selepas dipengaruhi golongan gereja yang selama ini menentang mereka. Semua golongan lelaki dewasa Yahudi telah dipaksa meninggalkan negara Portugal, manakala wanita dan anak-anak dipaksa menukar agama kepada Kristian.
Tekanan dan kezaliman ke atas Yahudi sebenarnya tidaklah terbatas di negara-negara seperti Sepanyol, Portugal dan Rom sahaja.Malahan semua negara Eropah Kristian telah mengambil sikap anti-Yahudi secara terang-terangan. Di bawah dinyatakan peristiwa-peristiwa kezaliman yang berlaku keatas golongan Yahudi:
Di England, King Edwaard telah menghalau Yahudi beramai-ramai pada tahun 1290.
Di Perancis, King Phillip telah menghalau mereka dari Perancis pada tahun 1306. Menurut fakta sejarah, Raja Phillip kemudiannva telah membenarkan sebahagian daripada mereka untuk pulang ke Perancis selepas itu, tetapi keputusan diambil untuk menghalau semula mereka pada tahun 1394.
Di Hungary, golongan Yahudi telah dibuang negara beramai-ramai. Tetapi mereka memberanikan diri pulang semula sebelum dihalau kembali pada tahun 1582.
Di Belgium, mereka dihalau beramai-ramai pada tahun 1370.
Di negara Czechoslovakia pula, puak Yahudi dihalau pada tahun 1380. Mereka kembali semula untuk bermastautin pada tahun 1592. Malangnya pada tahun 1744, Queen Maria Theressa telah mengarahkan agar dihalau semula golongan Yahudi tersebut.
Di negara Austria pula, Raja Bright ke-5 telah menghalau mereka dari negara itu pada tahun 1420.
Di Holland, mereka dihalau dari Outricht pada tahun 1444.
Di Itali, mereka dihalau dari Napoli dan Sardina pada tahun 1540.
Di Jerman, golongan Yahudi dihambat dari Bavaria pada tahun 1551. Kemudian telah berlaku penindasan secara berterusan ke atas mereka oleh masyarakat berfahaman Nazi. Beratus ribu Yahudi telah terkorban dalam keganasan itu.
Di Rusia pula, rakyat tempatan telah berkerjasama menghalau orang-orang Yahudi pada tahun 1510. Golongan Yahudi beransur-ansur pulang selepas itu dengan harapan penduduk tempatan telah memaafkan mereka. Namun begitu, tekanan masih berterusan sehingga tentera Rusia turut masuk campur untuk menyembelih mereka beramai-ramai di
Ukraine sepanjang tahun 1919.
Menurut kajian, lebih dari 100,000 Yahudi telah diragut nyawanya termasuk lelaki dan perempuan serta anak-anak mereka. Jalanraya telah dibasahi dengan darah mereka. Tentera telah melakukan kekejaman di luar batasan pemikiran manusia di samping mencincang lumat anggota badan mereka.
Mengapa Yahudi Ditindas?
Antara sebab penindasan dilakukan ke atas mereka adalah kerana sikap sombong dan tidak setia pada perjuangan. Masyarakat Kristian Eropah menyedari sikap yang ditunjukkan itu. Golongan Yahudi merupakan golongan yang tidak pernah kenal erti berterima kasih. Walaupun hanya menumpang di negara orang, perangai mereka tidak ubah seperti tuan yang memeras dan menganiaya golongan peribumi negara itu. Kemahiran berniaga telah menjadikan golongan Yahudi sombong dan tidak berperikemanusiaan.
Orang yang meminjam dan berurus niaga dengan mereka terjebak dalam sistem riba. Ekonomi yang berasaskan riba telah dimulakan oleh korporat-korporat Yahudi yang berjaya untuk memastikan terus menjadi kaya tanpa memikirkan nasib si miskin.
Perkara ini tidaklah menghairankan kerana menurut kepercayaan mereka seperti yang dijelaskan di dalam 'Talmud' iaitu tafsiran kepada kitab 'Taurat', ada dinyatakan secara terang-terangan bahawa riba halal dengan urus niaga bersama bukan Yahudi. Ini disebabkan Yahudi adalah anak-anak Allah SWT, manakala selain mereka adalah binatang berupa anjing dan babi. Justeru itu, mereka berhak melakukan apa sahaja demi kepentingan peribadi.
Disebut dalam Talmud lagi:
Pemilikan harta-harta oleh selain Yahudi adalah tidak sah. Jadi sesiapa sahaja di kalangan Yahudi boleh merampas hak tersebut.
Allah SWT (SWT) menganugerahkan ke atas mereka hak untuk bertindak sesuka hati ke atas bangsa-bangsa lain.
Kedudukan Yahudi ke atas bangsa-bangsa lain sama seperti kedudukan manusia ke atas binatang. Bangsa-bangsa lain memiliki sifat-sifat kebinatangan. Tiada siapa yang dapat mengajar mereka melainkan Yahudi.
Riba diharamkan sesama Yahudi, tetapi dihalalkan kepada selain mereka. Malahan menurut perlembagaan Talmud itu, HARAM memberikan pinjaman kepada bangsa lain tanpa dikenakan riba.
Penaklukan Palestin Oleh Rejim Haram Yahudi
Sebab utama penaklukan negara Palestin sebenarnya berpunca dari perancangan yang teliti oleh Persatuan Freemason Antarabangsa. Freemason melihat usaha begini penting bagi mengelakkan pupusnya spesis Yahudi dari persada dunia.
Takdir Allah SWT membenarkan mereka berjaya menakluk Palestin dengan restu gerakan Kristian sedunia dan bantuan mereka. Perkara ini berlaku dalam keadaan orang-umat Islam terutamanya masyarakat Arab sedang lalai. Persoalannya, sampai bilakah mereka akan berjaya mendominasi negara yang kecil itu. Mereka perlu waspada kepada masyarakat Arab yang berjumlah lebih 100 juta orang itu yang sentiasa mengingati sejarah buruk antara mereka dan Yahudi sepanjang zaman. Masa jua yang akan menentukan segala-galanya.
Penutup
Janji Allah SWT akan sampai bagi memastikan Islam akan tinggi semula dan musuh-musuh Islam terutamanya Yahudi akan kembali ke era kesusahan dan penindasan seperti keadaan asal mereka.Kita meyakini usaha mereka mengumpulkan bangsa mereka di tengah-tengah negara umat Islam itu akan berakhir dengan penghapusan mereka secara terus dari muka bumi Allah SWT ini. Ini bersesuaian dengan maksud sebuah hadith sahih riwayat Al-Bukhari dan Muslim:
"Tidak akan berlaku kiamat sehinggalah orang-umat Islam berperang dengan orang-orang Yahudi (di sebuah tempat). Orang-umat Islam akan membunuh mereka beramai-ramai sehinggakan apabila mereka bersembunyi di sebalik batu dan pokok, tiba-tiba pokok-pokok dan batu-batu itu bersuara menjerit memanggil umat Islam agar membunuh orang-orang Yahudi itu, kecuali pokok 'Gharqad', kerana ia adalah pokok Yahudi".
Janji Nabi pastinya benar. Peristiwa ini akan berlaku bagi menamatkan siri pengkhianatan Yahudi terhadap Islam dan manusia secara keseluruhannya
Sumber : http://www.darulnuman.com/mhikmah/yahudi.html
Islamic Derivatives
During the late 1980's an opportunity came my way to become an option dealer in the London capital market. At that time I was not a practising Muslim and, given that the pay in this line of work could be enormous, I accepted without a second thought. As the years went by, it occurred to me that the size of my pay packet bore little relation to the benefit enjoyed by society as a result of my work. Others had misgivings of their own. Accountants complained of the hidden risks that banks were taking 'off balance sheet' and, from time to time, government ministers would make a scapegoat of the derivatives market when other excuses were not forthcoming. Regulators scrambled to recruit staff who could understand what the traders were doing but offerred low rates of pay and, therefore, sufferred from a persistent lack of qualified staff.
As the derivatives booty trickled down in ever greater quantities, the financial establishment began to seek a wider economic justification for the existence of this market. The business schools, progenitors of modern option valuation techniques, were only too happy to help. The increasing diversity of hedging products provided a more complete spectrum of risk management tools and was therefore of benefit to society, they told us. But we in the market saw a different story unfolding. XYZ bank would lure the poorly paid treasury manager at the Kingdom of Somewhere-Or-Other into a complex swap deal that only a PhD in Nuclear Physics could properly value. So the bank would book a multi-million dollar profit the very day the deal was closed and the Kingdom's officers would never know any better. Derivatives departments began to swarm around corporate clients like bees around a honey pot.
Of course the scam couldn't last forever. By the early 1990's, Bankers Trust traders were caught discussing the size of the "rip-off factor" on a Procter and Gamble derivatives deal. We know this because the episode was taped and made public on behalf of the company. It was one of many large derivatives losses accrued by clients that had acted on the eager encouragement of their bankers. Soon Orange County and Metallgesellschaft would fall into the same trap at a cost of hundreds of millions of dollars more.
"We can protect you against market volatility" the investment bankers tell their clients. But the market volatility is caused by the activities of those very same investment bankers, and so the clients are sold nothing for something. Protection against a danger that never needed to exist in the first place. Sadly, the world learned little from the derivatives explosion. By the time the internet boom collapsed, a new generation of clients was learning about the motivations that really drive bankers and advisors. The clients tend to be offerred the products that provide financial institutions with the highest profit margin.
What if every country had pure gold coins as its currency? Then what would be the point of the foreign exchange market? What would be the point of exchanging one ounce of American gold for one ounce of Japanese gold? Who would need currency derivatives? Who would need to pay commission on foreign currency transactions? We see very quickly where this idea leads. An end to a trillion-dollar-a-day market that produces huge profits for the financial establishment. But of course profit is not necessarily indicative of productive effort. Theft is a good example of this principle. If we want to achieve a more efficient economy, we must promote systems in which people work in productive pursuits rather than unproductive ones. The foreign exchange market is an unproductive pursuit in that it exists because of an unnecessary monetary convention. Change the convention, in other words adopt a different monetary standard, and all those clever dealers can become doctors and teachers instead!
But back to options. Modern option contracts have a variety of features in common that can be summarised as follows. An option is a right not an obligation to enter into an underlying contract of exchange at or before a specified future date (the expiry date). The buyer of that option pays a price (the premium) to the seller (the writer) of the option. The option may give its holder the right to buy a specified asset (the underlying) from the option writer, gold for example, such being a call option on gold. Or the option may give its holder the right to sell the underlying asset to the option writer. This would be a put option. Every option has a strike price, this being the price at which the holder may buy or sell the underlying upon exercise of the option. And every option has a nominal size, this being the amount of underlying that the option holder may buy or sell at the strike price. A 15 December 2001 European call on gold at $400 per ounce in 100 ounces gives its holder the right to buy 100 ounces of gold from the option writer at $400 per ounce on the 15 December 2001, if the holder so wishes.
If we exclude those financial contracts which are of themselves haram (bonds and forward foreign exchange for example), then we are left with a set of underlyings such as equities and commodities upon which a derivative contract may be based.
Curiously, even where acceptable forms of underlying such as these are concerned, a key valuation element in arriving at the fair value of an option contract remains the rate of interest. The Black Scholes formula proposes that since an option can be perfectly hedged through constant trading in the underlying, the option position should be riskless and hence earn the buyer the riskless rate of interest on the premium that was paid for it. (In reality, constant trading of the underlying asset to achieve the perfect hedge is unattainable, and so option prices behave in ways that are not entirely predicted by Black-Scholes.) For the unhedged option, the contract becomes one of pure uncertainty. Neither party knows whether the option will be exercised, as it is dependent upon the condition of the market at a future date.
The first problem with the standard option contract from a Shari`ah perspective is that a contract of exchange in which both payment and underlying are deferred is widely held to be prohibited. The second problem is the uncertainty that exists with regard to whether or not the option will be exercised. Thirdly, if the option contract is judged to be halal, the question then arises as to whether that option can itself be sold to a third party, as is the case in the market for warrants for example. Fourthly, by buying a put option and selling a call option, a trader can replicate a short position in an underlying asset. Where these options are cash settled, the trader can be seen to achieve the same cash-flows as a short seller of that underlying. Shari`ah scholars have agreed that selling what one does not own is a prohibited commerical activity, and the possibility that such an activitiy can be synthesised through the use of options must therefore call into question their validity under Shari`ah. There is a fifth problem that pertains to more complex option contracts where the strike price itself varies according to an agreed formula. Such is the case with a serial option. For example, a one month 'at-the-money' serial call with daily resets gives the holder a series of one day call options whose strike price is the price of the underlying asset at the previous day's close of trading. As this price is unknown in advance, the strike price itself cannot be known. This represents further gharar.
Under Bay al-Urban, a deposit is paid on an item that a prospective buyer may purchase at a later time. Should the buyer not complete the purchase, the deposit is lost. This contract has been used as a justification for Islamic options by some writers who argue that the deposit can be seen as the premium paid by the buyer of a call option. The problem is that the scholars do not widely allow bay al-Urban. According to Ibn Rushd in Bidayat al-Mujtahid:Within this topic is the sale of the urban (sale with earnest money). The majority of jurists of different regions hold that it is not permitted, but it is related from a group of the Tabi'un that they permitted it, among them are Mujahid, Ibn Sirin, Nafi ibn al-Harth and Zayd ibn Aslam. The form it takes is that a person puchases a thing and delivers to the seller part of the price on the condition that if the sale is executed between them this earnest money will form part of the price of the goods, if it is not executed the buyer will forgo it. The majority inclined toward its prohibition, as it is from the category of gharar, mukhatara and the devouring of wealth of others without compensation. Zayd used to say, "The messenger of Allah (God's peace and blessings be upon him) permitted it". The Ahl al-Hadith said that this is not known from the messenger of Allah (God's peace and blessings be upon him).
Under Khiyar, which is allowed by the jurists, the buyer of an item has the right to undo his purchase if the seller specifically allows as part of the terms of the sale. This is in other words an option to cancel a previously agreed sale. All buyers have a right to cancel a sale following purchase but before leaving the presence of the seller (khiyar al-majlis). This right is different to that expressly given by the seller to the buyer under sale with an option (bay al-khiyar), where the buyer may leave the presence of the seller for a specified period of time before returning to cancel the sale and take back the money that was paid.
Ibn Rushd in Bidayat al-Mujtahid comments:
Permissibility of option is upheld by the majority, except for al-Thawri and Ibn Shubrama, as well as a group of the Zahirities. The reliance of the majority is on the tradition of Hibban ibn Munqidh, which contains the words "and you have an option for three days", and also what has been related of the tradition of Ibn Umar: "The parties to sale have an option as long as they have not parted, except in sale with an option". The reliance of those who prohibit it is (on the argument) that it constitutes gharar and that the basis of sale is that it is binding, unless definitive evidence is produced for the permissibility of sale with an option from the Qur'an or authentic sunna or ijma. They also said that the tradition of Hibban is either not authentic or it is specific to the case of a person who complained to the Prophet (God's peace and blessings be upon him) that he was deceived in sales. They said that the tradition of Ibn Umar and the words in it, "except sale with an option", have been interpreted through another version of this tradition in which the words "that he says to his counterpart: 'Choose'," have been recorded.
In khiyar it is difficult to see any analogy that would lead us to the acceptance of the modern option contract as described above. Khiyar relates to a halal contract of exchange that has already taken place, whilst a modern option relates to an exchange that is yet to take place. In the case of khiyar, the exchange of one or both countervalues is effected immediately. In the case of the modern option contract, future delivery applies to both the payment and the underlying asset. In addition, uncertainty as to the materialisation of the exchange exists with the modern option contract but not in khiyar.
Disagreements among traditional scholars in the matter of khiyar arise in minor details, such as the length of time for which the buyer has the option to return the goods, or who is liable for any damage to the goods whilst the buyer is in posession of them during the option period. These scholars do not seem to have disagreed upon those fundamental principles which distinguish khiyar from the modern option contract.
It is my view, having been involved in derivatives dealing, that the potential exists in this market to cause a serious breakdown in the financial system. The degrees of leverage that are afforded by option contracts can be so high that large unpredictable market moves in underlying prices may one day lead to the insolvency of a major financial institution. Liabilities cannot be perfectly hedged even where that is the intention, and some traders deliberately do not hedge their option portfolios because such action would limit the potential for high returns. The case of Long Term Capital Management in the United States, rescued by a Federal Reserve bail out in 1998, demonstrates the degree of risk that can be incurred. The question is whether the central bank or other authorities will be able to move quickly enough, or in large enough measure, to prevent future failings.
When looked at from the Islamic perspective, as with so many other Islamic financial products, it seems that theory needs to be stretched in order to justify an Islamic option contract. The macro-economic arguments for their existence are of dubious merit, based as they are on minimising risks which do not need to exist in the first place. Better to structure the economic system such that it does not suffer from continuing volatility. If there was no such thing as interest, there would be no such thing as interest rate options. The same with foreign currency. What we are seeing in the Western world is the emergence of financial products that are a symptom of a system that has gone wrong. Islamic financiers who look at the products of this system as a paradigm are making a big mistake.
During the late 1980's an opportunity came my way to become an option dealer in the London capital market. At that time I was not a practising Muslim and, given that the pay in this line of work could be enormous, I accepted without a second thought. As the years went by, it occurred to me that the size of my pay packet bore little relation to the benefit enjoyed by society as a result of my work. Others had misgivings of their own. Accountants complained of the hidden risks that banks were taking 'off balance sheet' and, from time to time, government ministers would make a scapegoat of the derivatives market when other excuses were not forthcoming. Regulators scrambled to recruit staff who could understand what the traders were doing but offerred low rates of pay and, therefore, sufferred from a persistent lack of qualified staff.
As the derivatives booty trickled down in ever greater quantities, the financial establishment began to seek a wider economic justification for the existence of this market. The business schools, progenitors of modern option valuation techniques, were only too happy to help. The increasing diversity of hedging products provided a more complete spectrum of risk management tools and was therefore of benefit to society, they told us. But we in the market saw a different story unfolding. XYZ bank would lure the poorly paid treasury manager at the Kingdom of Somewhere-Or-Other into a complex swap deal that only a PhD in Nuclear Physics could properly value. So the bank would book a multi-million dollar profit the very day the deal was closed and the Kingdom's officers would never know any better. Derivatives departments began to swarm around corporate clients like bees around a honey pot.
Of course the scam couldn't last forever. By the early 1990's, Bankers Trust traders were caught discussing the size of the "rip-off factor" on a Procter and Gamble derivatives deal. We know this because the episode was taped and made public on behalf of the company. It was one of many large derivatives losses accrued by clients that had acted on the eager encouragement of their bankers. Soon Orange County and Metallgesellschaft would fall into the same trap at a cost of hundreds of millions of dollars more.
"We can protect you against market volatility" the investment bankers tell their clients. But the market volatility is caused by the activities of those very same investment bankers, and so the clients are sold nothing for something. Protection against a danger that never needed to exist in the first place. Sadly, the world learned little from the derivatives explosion. By the time the internet boom collapsed, a new generation of clients was learning about the motivations that really drive bankers and advisors. The clients tend to be offerred the products that provide financial institutions with the highest profit margin.
What if every country had pure gold coins as its currency? Then what would be the point of the foreign exchange market? What would be the point of exchanging one ounce of American gold for one ounce of Japanese gold? Who would need currency derivatives? Who would need to pay commission on foreign currency transactions? We see very quickly where this idea leads. An end to a trillion-dollar-a-day market that produces huge profits for the financial establishment. But of course profit is not necessarily indicative of productive effort. Theft is a good example of this principle. If we want to achieve a more efficient economy, we must promote systems in which people work in productive pursuits rather than unproductive ones. The foreign exchange market is an unproductive pursuit in that it exists because of an unnecessary monetary convention. Change the convention, in other words adopt a different monetary standard, and all those clever dealers can become doctors and teachers instead!
But back to options. Modern option contracts have a variety of features in common that can be summarised as follows. An option is a right not an obligation to enter into an underlying contract of exchange at or before a specified future date (the expiry date). The buyer of that option pays a price (the premium) to the seller (the writer) of the option. The option may give its holder the right to buy a specified asset (the underlying) from the option writer, gold for example, such being a call option on gold. Or the option may give its holder the right to sell the underlying asset to the option writer. This would be a put option. Every option has a strike price, this being the price at which the holder may buy or sell the underlying upon exercise of the option. And every option has a nominal size, this being the amount of underlying that the option holder may buy or sell at the strike price. A 15 December 2001 European call on gold at $400 per ounce in 100 ounces gives its holder the right to buy 100 ounces of gold from the option writer at $400 per ounce on the 15 December 2001, if the holder so wishes.
If we exclude those financial contracts which are of themselves haram (bonds and forward foreign exchange for example), then we are left with a set of underlyings such as equities and commodities upon which a derivative contract may be based.
Curiously, even where acceptable forms of underlying such as these are concerned, a key valuation element in arriving at the fair value of an option contract remains the rate of interest. The Black Scholes formula proposes that since an option can be perfectly hedged through constant trading in the underlying, the option position should be riskless and hence earn the buyer the riskless rate of interest on the premium that was paid for it. (In reality, constant trading of the underlying asset to achieve the perfect hedge is unattainable, and so option prices behave in ways that are not entirely predicted by Black-Scholes.) For the unhedged option, the contract becomes one of pure uncertainty. Neither party knows whether the option will be exercised, as it is dependent upon the condition of the market at a future date.
The first problem with the standard option contract from a Shari`ah perspective is that a contract of exchange in which both payment and underlying are deferred is widely held to be prohibited. The second problem is the uncertainty that exists with regard to whether or not the option will be exercised. Thirdly, if the option contract is judged to be halal, the question then arises as to whether that option can itself be sold to a third party, as is the case in the market for warrants for example. Fourthly, by buying a put option and selling a call option, a trader can replicate a short position in an underlying asset. Where these options are cash settled, the trader can be seen to achieve the same cash-flows as a short seller of that underlying. Shari`ah scholars have agreed that selling what one does not own is a prohibited commerical activity, and the possibility that such an activitiy can be synthesised through the use of options must therefore call into question their validity under Shari`ah. There is a fifth problem that pertains to more complex option contracts where the strike price itself varies according to an agreed formula. Such is the case with a serial option. For example, a one month 'at-the-money' serial call with daily resets gives the holder a series of one day call options whose strike price is the price of the underlying asset at the previous day's close of trading. As this price is unknown in advance, the strike price itself cannot be known. This represents further gharar.
Under Bay al-Urban, a deposit is paid on an item that a prospective buyer may purchase at a later time. Should the buyer not complete the purchase, the deposit is lost. This contract has been used as a justification for Islamic options by some writers who argue that the deposit can be seen as the premium paid by the buyer of a call option. The problem is that the scholars do not widely allow bay al-Urban. According to Ibn Rushd in Bidayat al-Mujtahid:Within this topic is the sale of the urban (sale with earnest money). The majority of jurists of different regions hold that it is not permitted, but it is related from a group of the Tabi'un that they permitted it, among them are Mujahid, Ibn Sirin, Nafi ibn al-Harth and Zayd ibn Aslam. The form it takes is that a person puchases a thing and delivers to the seller part of the price on the condition that if the sale is executed between them this earnest money will form part of the price of the goods, if it is not executed the buyer will forgo it. The majority inclined toward its prohibition, as it is from the category of gharar, mukhatara and the devouring of wealth of others without compensation. Zayd used to say, "The messenger of Allah (God's peace and blessings be upon him) permitted it". The Ahl al-Hadith said that this is not known from the messenger of Allah (God's peace and blessings be upon him).
Under Khiyar, which is allowed by the jurists, the buyer of an item has the right to undo his purchase if the seller specifically allows as part of the terms of the sale. This is in other words an option to cancel a previously agreed sale. All buyers have a right to cancel a sale following purchase but before leaving the presence of the seller (khiyar al-majlis). This right is different to that expressly given by the seller to the buyer under sale with an option (bay al-khiyar), where the buyer may leave the presence of the seller for a specified period of time before returning to cancel the sale and take back the money that was paid.
Ibn Rushd in Bidayat al-Mujtahid comments:
Permissibility of option is upheld by the majority, except for al-Thawri and Ibn Shubrama, as well as a group of the Zahirities. The reliance of the majority is on the tradition of Hibban ibn Munqidh, which contains the words "and you have an option for three days", and also what has been related of the tradition of Ibn Umar: "The parties to sale have an option as long as they have not parted, except in sale with an option". The reliance of those who prohibit it is (on the argument) that it constitutes gharar and that the basis of sale is that it is binding, unless definitive evidence is produced for the permissibility of sale with an option from the Qur'an or authentic sunna or ijma. They also said that the tradition of Hibban is either not authentic or it is specific to the case of a person who complained to the Prophet (God's peace and blessings be upon him) that he was deceived in sales. They said that the tradition of Ibn Umar and the words in it, "except sale with an option", have been interpreted through another version of this tradition in which the words "that he says to his counterpart: 'Choose'," have been recorded.
In khiyar it is difficult to see any analogy that would lead us to the acceptance of the modern option contract as described above. Khiyar relates to a halal contract of exchange that has already taken place, whilst a modern option relates to an exchange that is yet to take place. In the case of khiyar, the exchange of one or both countervalues is effected immediately. In the case of the modern option contract, future delivery applies to both the payment and the underlying asset. In addition, uncertainty as to the materialisation of the exchange exists with the modern option contract but not in khiyar.
Disagreements among traditional scholars in the matter of khiyar arise in minor details, such as the length of time for which the buyer has the option to return the goods, or who is liable for any damage to the goods whilst the buyer is in posession of them during the option period. These scholars do not seem to have disagreed upon those fundamental principles which distinguish khiyar from the modern option contract.
It is my view, having been involved in derivatives dealing, that the potential exists in this market to cause a serious breakdown in the financial system. The degrees of leverage that are afforded by option contracts can be so high that large unpredictable market moves in underlying prices may one day lead to the insolvency of a major financial institution. Liabilities cannot be perfectly hedged even where that is the intention, and some traders deliberately do not hedge their option portfolios because such action would limit the potential for high returns. The case of Long Term Capital Management in the United States, rescued by a Federal Reserve bail out in 1998, demonstrates the degree of risk that can be incurred. The question is whether the central bank or other authorities will be able to move quickly enough, or in large enough measure, to prevent future failings.
When looked at from the Islamic perspective, as with so many other Islamic financial products, it seems that theory needs to be stretched in order to justify an Islamic option contract. The macro-economic arguments for their existence are of dubious merit, based as they are on minimising risks which do not need to exist in the first place. Better to structure the economic system such that it does not suffer from continuing volatility. If there was no such thing as interest, there would be no such thing as interest rate options. The same with foreign currency. What we are seeing in the Western world is the emergence of financial products that are a symptom of a system that has gone wrong. Islamic financiers who look at the products of this system as a paradigm are making a big mistake.
Wednesday, January 14, 2009
Islam galak umat menabung
oleh Muhammad Shabri Majid
Rencana ini telah di petik dari Berita Harian 24 April 2001
ISLAM sebagai agama syumul mengatur umatnya tidak terhad kepada aspek sosial, politik dan ibadat malah ekonomi. Semua norma dan nilai ekonomi diatur dalam sumber hukum Islam sama ada secara langsung atau tidak langsung berbeza dengan hukum ekonomi buatan manusia.
Hal ini meletakkan ekonomi Islam jauh lebih unggul berbanding ekonomi kapitalis dan komunis. Contoh jelas ialah konsep menabung dalam Islam sebagai usaha untuk menuju sebuah negara damai dan sejahtera.
Islam adalah agama sederhana,yang umatnya sentiasa diarahkan untuk hidup jimat dan tidak berbelanja secara berlebihan.
Penjimatan ini perlu dilakukan dengan mengurangkan kecenderungan untuk menggunakan barang keperluan. Jumlah baki pendapatan yang tinggal dari penggunaan itu, pada gilirannya akan memungkinkan seseorang Muslim untuk cenderung menabung lebih banyak.
Larangan berbelanja secara berlebihan dan tuntutan agama untuk menggunakan barang berdasarkan konsep halal dan haram, mendorong umat Islam supaya menabung.
Ini adalah tanda bahawa seseorang Muslim yang baik yang sentiasa mematuhi panduan syariah akan cenderung menabung lebih banyak dibandingkan bukan Islam.
Namun yang jadi permasalahan sekarang adalah mengapa banyak negara Islam jauh lebih terbelakang baik dalam bidang pendidikan, kesihatan dan ekonomi berbanding negara sekular? Padahal kita mengetahui bahawa tingkat tabungan adalah penunjuk penting terhadap kemajuan sesebuah negara.
Apakah kerana ketakwaan kita masih diragukan, sehingga kita tidak secara menyeluruh mengikuti aturan Ilahi?
Tulisan ini tidak difokuskan untuk menjawab persoalan diatas. Ia hanya cuba menganalisis konsep menabung dalam ekonomi Islam dengan memberikan beberapa dalil naqli terhadap kepentingan menabung dalam Islam, memberikan alasan keperluan menabung dalam Islam dan cuba memaparkan model tabungan cara Islam.
Tidak sedikit ayar al-Quran dan hadis, sama ada secara langsung atau tidak langsung yang mendorong umat Islam supaya menabung. Konsep kesederhanaan dalam berbelanja sangat tegas disebut oleh Allah dan Islam sangat membenci pembaziran.
Kebencian Allah SWT terhadap pembaziran ini adalah cukup beralasan kerana ia akan menyebabkan kehidupan masa depan seseorang menjadi tidak pasti kerana tiada mempunyai perencanaan ekonomi.
Mereka tidak menabung akan menghadapi kesulitan ekonomi yang tidak diduga pada masa depan. Oleh itu al-Quran meminta umatnya untuk tidak berbelanja secara berlebih-lebihan dan tidak terlalu kikir, seperti disebutkan dalam beberapa ayat berikut ini : " Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu menghulurkan kerana itu kamu menjadi tercela dan menyesali" (Surah al-Isra ayat 29). Firman Allah lagi bermaksud: " Sesungguhnya pemboros itu adalah saudara syaitan..." (Surah al-Isra ayat 27) " dan... makan dan minumlah kamu dan janganlah berlebih-lebihan...." (Surah al-A'raf ayat 31) " Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak (pula) kikir...." (Surah al-Furqan ayat 67)
Sementara itu, Rasulullah saw dan hadisnya cukup memberi peringatan kepada umatnya supaya menabung sebagai cara terbaik untuk membanteras kemiskinan.
Ini dapat kita lihat daripada beberapa hadis bermaksud: "....Rasulullah saw pernah membeli kurma dari Bani Nadhir dan menyimpannya untuk perbekalan setahun buat keluarga..." (Hadis riwayat Bukhari): "Simpanlah sebahagian daripada harta kamu untuk kebaikan masa depan kamu, kerana itulah jauh lebih baik bagimu. " (Hadis riwayat Bukhari)
Berdasarkan ayat al-Quran dan hadis diatas, jelas bahawa menabung, sangat digalakkan dalam Islam.
Namun ini tidak bererti bahawa Islam membenarkan umatnya untuk berlaku kikir dan kemudian membiarkan harta itu tidak produktif.
Harta yang tidak dilaburkan dalam sektor pengeluaran akan menjadikan sistem ekonomi menjadi lebih parah kerana tidak wujud peluang pekerjaan berikutan kurangnya permintaan terhadap barang yang dijual dipasaran.
Mengapa umat Islam lebih berpotensi untuk menabung dalam sistem ekonomi Islam? Tidak seperti dalam ekonomi konvensional, Islam melarang umatnya untuk menggunakan barang yang haram hukumnya. Ini kerana ia akan dapat memudaratkan sama ada kesihatan sistem ekonomi mahupun kesihatan tubuh mereka.
Contohnya Islam tidak membenarkan umatnya mengamalkan hukum riba, memakan makanan haram, seperti babi dan meminum arak. Ini kerana terbatasnya jumlah barang yang boleh digunakan, maka akan semakin besar kecenderugan umat Islam untuk menabung. Hal inilah yang menyebabkan menabung semakin diperlukan dalam Islam.
Tujuan kita berpandukan kepada konsep halal dan haram dalam menggunakan barang dan jasa, menurut Akram Khan (1983) adalah sebagai pendorong untuk meminimumkan jumlah harta yang dibelanjakan sehingga memisahkan jumlah maksimum harta yang boleh ditabung.
Sementara itu, AM Sadeq (1992) seorang profesor bidang ekonomi pembangunan Islam di Universiti Islam Antarabangsa Malaysia jauh melihat bahawa faktor penyebab potensi tabungan dalam Islam tidak hanya seperti disebutkan diatas.
Beliau melihat bahawa kewajipan umat Islam untuk menggunakan sumber daya alam dan sumber daya manusia secara optimum dan keharusan untuk memobilisasi tabungan secara produktif. Ini dapat dilakukan dengan tabungan itu perlu disalurkan untuk dilaburkan dalam sektor yang menghasilkan keuntungan juga antara faktor penting yang mendorong umat Islam untuk menabung.
Selain itu Islam melihat bekerja untuk memenuhi nafkah baik untuk dirinya atau orang yang berada dibawah tanggungan adalah sebahagian daripada ibadah.
Namun begitu ada pendapat yang meragukan bahawa tingkat tabungan itu akan terhambat kerana penghapusan sistem bunga (riba) dan kewujudan institusi zakat dalam ekonomi Islam. Pendapat ini sebenarnya dilandaskan kepada konsep tabungan ekonomi klasikal yang menyatakan bahawa tabungan itu bergantung secara positif pada tingkat bunga.
Semakin tinggi tingkat bunga, maka semakin ramai orang menabung kerana mengharapkan keuntungan yang lebih besar, begitu juga disebaliknya. Ternyata hasil penelitian empirikal telah membuktikan bahawa pandangan ini adalah tidak benar.
Dalam bukunya, Towards a Just Monetary System (Menuju ke Sistem Kewangan Yang Adil), Umer Chapra (1985) membantah keras andaian yang mengatakan penghapusan bunga akan menghambat tingkat tabungan yang pada gilirannya akan mengurangi formasi modal dalam ekonomi.
Sedangkan pengagihan zakat yang ditujukan untuk mengagihkan secara adil jumlah pendapatan yang diterima diantara masyarakat miskin dan kaya, justeru akan mempromosikan taraf kehidupan masyarakat miskin.
Sejak lebih 1,400 tahun lalu, ekonomi Islam telah melihat tabungan sebagai salah satu faktor dominan dalam pembangunan ekonomi.
Penghapusan bunga adalah perbezaan mendasar diantara model tabungan Islam dengan bukan Islam. Oleh itu fungsi tabungan dalam Islam sama sekali tidak bergantung kepada tingkat bunga seperti dalam ekonomi konvensional. Dalam hal ini Umer Chapra (1985) hanya melihat bahawa pendapatan dan keperluan penggunaan sekarang dan pendapatan pengguna pada masa depan, adalah faktor yang mempengaruhi tabungan seseorang.
Ganjaran besar menabung, menderma kejalan Allah
Ekonomi Islam melihat tabungan sebagai salah satu faktor unggul dalam membangunkan ekonomi sejak lebih 1400 tahun lalu
Penghapusan bunga adalah perbezaan dasar diantara model tabungan Islam dengan bukan Islam. Oleh itu fungsi tabungan dalam Islam sama sekali tidak bergantung kepada tingkat bunga seperti dalam ekonomi konvensional.
Dalam bukunya "Towards a Just Monetary" System (menuju kesystem kewangan yang adil), Umer Chapra (1985) membantah keras andaian yang mengatakan penghapusan bunga akan menghambat tingkat tabungan, yang pada gilirannya, akan mengurangi formasi modal dalam ekonomi.
Sedangkan pengagihan zakat yang ditunjukan untuk mengagihkan secara adil jumlah pendapatan yang diterima diantara masyarakat miskin dan kaya, justru akan mempromosikan taraf kehidupan masyarakat miskin.
Dalam hal ini Umer Chapra (1985) hanya melihat pendapatan dan keperluan penggunaan sekarang dan pendapatan pengguna pada masa depan, adalah faktor yang mempengaruhi tabungan seseorang.
Monzer Kahf (1992) pula melihat bahawa banyak faktor lain yang mempengaruhi tingkah laku penabung dalam Islam.
Faktor itu ialah tingkat pendapatan, keinginan mengumpulkan harta untuk menjadi kaya raya, ketersediaan barang dan jasa untuk digunakan, zakat, tingkat keuntungan pelaburan, keinginan untuk menyimpan harta dengan motif berjaga-jaga dan tingkat ketakwaan seseorang.
Kecuali faktor penggunaan dan ketakwaan, menurut beliau, semua faktor diatas mempunyai hubungan positif dengan tingkat tabungan.
Ini menunjukkan bahawa semakin tingginya tingkat ketakwaan seseorang maka semakin rendah tingkat tabungan mereka.
Keadaan itu berlaku kerana pada umumnya mereka lebih memilih untuk bersedekah hartanya kejalan Allah SWT daripada menyimpan.
Kenyataannya, ketakwaan yang sepatutnya menyebabkan seseorang cenderung untuk menabung lebih banyak. Dalam hal ini mungkin Monzer lupa bahawa derma atau sedekah yang dikeluarkan oleh orang bertakwa juga adalah tabungan.
Namun Tabungan Ukhrawi ini berbeza dengan tabungan duniawi kerana keuntungan tabungan ukhrawi ini tidak hanya dapat dirasakan faedahnya sekarang tetapi imbalan mutlaknya akan diperolehi pada hari pembalasan kelak.
Kemusykilan lain, apabila sedekah atau derma tidak dikategorikan dalam jenis tabungan, adalah hanya orang fakir dan bakhil yang cenderung menabung banyak kerana kekikiran dan kebakhilan mereka, walaupun pada dasarnya pendapatan mereka jauh lebih rendah berbanding orang kaya yang bertakwa dan sentiasa mendermakan hartanya kejalan Allah SWT.
Derma dan sedekah orang bertakwa untuk yang daif akan meningkatkan mutu hidup mereka sebahagian proses pemberdayaan ekonomi, sehingga tidak mustahil apabila pada akhirnya mereka mampu memiliki tabungan sendiri.
Bukankah ini juga akan meningkatkkan kecenderungan umat Islam untuk menabung?
Dorongan Islam supaya umatnya cinta menabung, besar pahalanya, lebih-lebih lagi kejalan Allah SWT.
Imbalan pahala luar biasa bagi sesiapa yang bersedekah dan menafkahkan hartanya kejalan Allah sebagai sebagai tabungan untuk Hari Akhirat, tiada tolok banding dengan keuntungan dengan menabung di bank konvensional.
Pakara ini dinyatakan Allah dalam firman Nya yang bermaksud " Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah) adalah sama dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir, seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi sesiapa yang dikehendaki " (Surah al-baqarah, ayat 262)
Berdasarkan ayat ini, maka kita dapat memberi contoh perhitungan kasar, apabila seseorang menafkahkan hartanya kejalan Allah sebanyak RM1 saja, maka RM1 akan berkembang menjadi RM7, dan dari tiap-tiap RM7 itu pula akan menghasilkan RM100.
Secara keseluruhan dengan hanya bersedekah RM1, pahal yang akan kita perolehi pada hari pembalasan adalah RM700 (RM1 x 7 x 100).
Namun apabila kita bersedekah harta pada bulan Ramadan, maka ganjaran sedekah kita akan didharab dengan 10. Ini kerana setiap kebaikan yang umat Islam lakukan dibulan Ramadhan, Allah SWT membalasnya dengan 10 kebaikan. Ini bererti, RM1 yang kita sedekahkan pada bulan Ramadhan akan bernilai RM7,000 (RM1 x 7 x 100 x 10) pada hari akhirat kelak.
Seterusnya apabila harta yang kita sedekahkan itu kebetulan bertepatan dengan malam lalatul qadar, yang sesiapa sahaja membuat amalan baik pada malam itu akan mendapat ganjaran 1,000 kali, maka RM1 yang kita nafkahkan kejalan Allah SWT pada masa itu akan bernilai RM7,000,000 (RM1 x 7 x 100 x 10 x 1000) pada hari akhirat nanti.
Dan apabila Allah SWT menghendaki maka jumlah ini akan dilipat gandakan lagi. Contoh ini adalah hanya sebagai ilustrasi, sedangkan kepastian jumlah pahala yang kita dapatkan atas amalan baik kita, hanya Allah Yang Maha Mengetahui.
Tidakkah ini adalah keuntungan yang luar biasa besarnya kita perolehi dengan hanya menafkahkan harta (menabung untuk hari akhirat) kejalan Allah.
jika Cuba bayangkan kita sedekahkan itu bukan RM1, seberapa besar ganjaran yang akan kita dapat? Adakah keuntungan yang kita perolehi dengan menabung di bank konvensional dengan keuntungan yang berkisar antara tiga hingga lapan peratus daripada wang yang kita tabung itu menyamai dengan ganjaran yang kita perolehi dengan menabung di bank Allah SWT?
Dari huraian diatas dapat kita lihat bahawa Islam sangat menggalakkan umatnya untuk menabung.
Ini kerana jumlah tabungan adalah petunjuk penting dalam sebuah pembangunan ekonomi. Maka dapat dikatakan bahawa Islam adalah agama yang cinta akan kemajuan.
Oleh itu seseorang yang beriman dan bertakwa kepada Allah akan sentiasa berpandukan pada al-Quran sunah secara kaffah (menyeluruh) tidak hanya dalam aspek ritual semata-mata malah aspek ekonomi.
Menabung adalah satu ibadah Oleh kerana bahagian daripada akhlaqul karimah dan bahagian kewajipan agama, maka melakukannya adalah bahagian ibadah kepada Allah SWT yang berganjarkan pahala.
Umat Islam adalah umat penabung dan umat yang berwaw
oleh Muhammad Shabri Majid
Rencana ini telah di petik dari Berita Harian 24 April 2001
ISLAM sebagai agama syumul mengatur umatnya tidak terhad kepada aspek sosial, politik dan ibadat malah ekonomi. Semua norma dan nilai ekonomi diatur dalam sumber hukum Islam sama ada secara langsung atau tidak langsung berbeza dengan hukum ekonomi buatan manusia.
Hal ini meletakkan ekonomi Islam jauh lebih unggul berbanding ekonomi kapitalis dan komunis. Contoh jelas ialah konsep menabung dalam Islam sebagai usaha untuk menuju sebuah negara damai dan sejahtera.
Islam adalah agama sederhana,yang umatnya sentiasa diarahkan untuk hidup jimat dan tidak berbelanja secara berlebihan.
Penjimatan ini perlu dilakukan dengan mengurangkan kecenderungan untuk menggunakan barang keperluan. Jumlah baki pendapatan yang tinggal dari penggunaan itu, pada gilirannya akan memungkinkan seseorang Muslim untuk cenderung menabung lebih banyak.
Larangan berbelanja secara berlebihan dan tuntutan agama untuk menggunakan barang berdasarkan konsep halal dan haram, mendorong umat Islam supaya menabung.
Ini adalah tanda bahawa seseorang Muslim yang baik yang sentiasa mematuhi panduan syariah akan cenderung menabung lebih banyak dibandingkan bukan Islam.
Namun yang jadi permasalahan sekarang adalah mengapa banyak negara Islam jauh lebih terbelakang baik dalam bidang pendidikan, kesihatan dan ekonomi berbanding negara sekular? Padahal kita mengetahui bahawa tingkat tabungan adalah penunjuk penting terhadap kemajuan sesebuah negara.
Apakah kerana ketakwaan kita masih diragukan, sehingga kita tidak secara menyeluruh mengikuti aturan Ilahi?
Tulisan ini tidak difokuskan untuk menjawab persoalan diatas. Ia hanya cuba menganalisis konsep menabung dalam ekonomi Islam dengan memberikan beberapa dalil naqli terhadap kepentingan menabung dalam Islam, memberikan alasan keperluan menabung dalam Islam dan cuba memaparkan model tabungan cara Islam.
Tidak sedikit ayar al-Quran dan hadis, sama ada secara langsung atau tidak langsung yang mendorong umat Islam supaya menabung. Konsep kesederhanaan dalam berbelanja sangat tegas disebut oleh Allah dan Islam sangat membenci pembaziran.
Kebencian Allah SWT terhadap pembaziran ini adalah cukup beralasan kerana ia akan menyebabkan kehidupan masa depan seseorang menjadi tidak pasti kerana tiada mempunyai perencanaan ekonomi.
Mereka tidak menabung akan menghadapi kesulitan ekonomi yang tidak diduga pada masa depan. Oleh itu al-Quran meminta umatnya untuk tidak berbelanja secara berlebih-lebihan dan tidak terlalu kikir, seperti disebutkan dalam beberapa ayat berikut ini : " Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu menghulurkan kerana itu kamu menjadi tercela dan menyesali" (Surah al-Isra ayat 29). Firman Allah lagi bermaksud: " Sesungguhnya pemboros itu adalah saudara syaitan..." (Surah al-Isra ayat 27) " dan... makan dan minumlah kamu dan janganlah berlebih-lebihan...." (Surah al-A'raf ayat 31) " Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak (pula) kikir...." (Surah al-Furqan ayat 67)
Sementara itu, Rasulullah saw dan hadisnya cukup memberi peringatan kepada umatnya supaya menabung sebagai cara terbaik untuk membanteras kemiskinan.
Ini dapat kita lihat daripada beberapa hadis bermaksud: "....Rasulullah saw pernah membeli kurma dari Bani Nadhir dan menyimpannya untuk perbekalan setahun buat keluarga..." (Hadis riwayat Bukhari): "Simpanlah sebahagian daripada harta kamu untuk kebaikan masa depan kamu, kerana itulah jauh lebih baik bagimu. " (Hadis riwayat Bukhari)
Berdasarkan ayat al-Quran dan hadis diatas, jelas bahawa menabung, sangat digalakkan dalam Islam.
Namun ini tidak bererti bahawa Islam membenarkan umatnya untuk berlaku kikir dan kemudian membiarkan harta itu tidak produktif.
Harta yang tidak dilaburkan dalam sektor pengeluaran akan menjadikan sistem ekonomi menjadi lebih parah kerana tidak wujud peluang pekerjaan berikutan kurangnya permintaan terhadap barang yang dijual dipasaran.
Mengapa umat Islam lebih berpotensi untuk menabung dalam sistem ekonomi Islam? Tidak seperti dalam ekonomi konvensional, Islam melarang umatnya untuk menggunakan barang yang haram hukumnya. Ini kerana ia akan dapat memudaratkan sama ada kesihatan sistem ekonomi mahupun kesihatan tubuh mereka.
Contohnya Islam tidak membenarkan umatnya mengamalkan hukum riba, memakan makanan haram, seperti babi dan meminum arak. Ini kerana terbatasnya jumlah barang yang boleh digunakan, maka akan semakin besar kecenderugan umat Islam untuk menabung. Hal inilah yang menyebabkan menabung semakin diperlukan dalam Islam.
Tujuan kita berpandukan kepada konsep halal dan haram dalam menggunakan barang dan jasa, menurut Akram Khan (1983) adalah sebagai pendorong untuk meminimumkan jumlah harta yang dibelanjakan sehingga memisahkan jumlah maksimum harta yang boleh ditabung.
Sementara itu, AM Sadeq (1992) seorang profesor bidang ekonomi pembangunan Islam di Universiti Islam Antarabangsa Malaysia jauh melihat bahawa faktor penyebab potensi tabungan dalam Islam tidak hanya seperti disebutkan diatas.
Beliau melihat bahawa kewajipan umat Islam untuk menggunakan sumber daya alam dan sumber daya manusia secara optimum dan keharusan untuk memobilisasi tabungan secara produktif. Ini dapat dilakukan dengan tabungan itu perlu disalurkan untuk dilaburkan dalam sektor yang menghasilkan keuntungan juga antara faktor penting yang mendorong umat Islam untuk menabung.
Selain itu Islam melihat bekerja untuk memenuhi nafkah baik untuk dirinya atau orang yang berada dibawah tanggungan adalah sebahagian daripada ibadah.
Namun begitu ada pendapat yang meragukan bahawa tingkat tabungan itu akan terhambat kerana penghapusan sistem bunga (riba) dan kewujudan institusi zakat dalam ekonomi Islam. Pendapat ini sebenarnya dilandaskan kepada konsep tabungan ekonomi klasikal yang menyatakan bahawa tabungan itu bergantung secara positif pada tingkat bunga.
Semakin tinggi tingkat bunga, maka semakin ramai orang menabung kerana mengharapkan keuntungan yang lebih besar, begitu juga disebaliknya. Ternyata hasil penelitian empirikal telah membuktikan bahawa pandangan ini adalah tidak benar.
Dalam bukunya, Towards a Just Monetary System (Menuju ke Sistem Kewangan Yang Adil), Umer Chapra (1985) membantah keras andaian yang mengatakan penghapusan bunga akan menghambat tingkat tabungan yang pada gilirannya akan mengurangi formasi modal dalam ekonomi.
Sedangkan pengagihan zakat yang ditujukan untuk mengagihkan secara adil jumlah pendapatan yang diterima diantara masyarakat miskin dan kaya, justeru akan mempromosikan taraf kehidupan masyarakat miskin.
Sejak lebih 1,400 tahun lalu, ekonomi Islam telah melihat tabungan sebagai salah satu faktor dominan dalam pembangunan ekonomi.
Penghapusan bunga adalah perbezaan mendasar diantara model tabungan Islam dengan bukan Islam. Oleh itu fungsi tabungan dalam Islam sama sekali tidak bergantung kepada tingkat bunga seperti dalam ekonomi konvensional. Dalam hal ini Umer Chapra (1985) hanya melihat bahawa pendapatan dan keperluan penggunaan sekarang dan pendapatan pengguna pada masa depan, adalah faktor yang mempengaruhi tabungan seseorang.
Ganjaran besar menabung, menderma kejalan Allah
Ekonomi Islam melihat tabungan sebagai salah satu faktor unggul dalam membangunkan ekonomi sejak lebih 1400 tahun lalu
Penghapusan bunga adalah perbezaan dasar diantara model tabungan Islam dengan bukan Islam. Oleh itu fungsi tabungan dalam Islam sama sekali tidak bergantung kepada tingkat bunga seperti dalam ekonomi konvensional.
Dalam bukunya "Towards a Just Monetary" System (menuju kesystem kewangan yang adil), Umer Chapra (1985) membantah keras andaian yang mengatakan penghapusan bunga akan menghambat tingkat tabungan, yang pada gilirannya, akan mengurangi formasi modal dalam ekonomi.
Sedangkan pengagihan zakat yang ditunjukan untuk mengagihkan secara adil jumlah pendapatan yang diterima diantara masyarakat miskin dan kaya, justru akan mempromosikan taraf kehidupan masyarakat miskin.
Dalam hal ini Umer Chapra (1985) hanya melihat pendapatan dan keperluan penggunaan sekarang dan pendapatan pengguna pada masa depan, adalah faktor yang mempengaruhi tabungan seseorang.
Monzer Kahf (1992) pula melihat bahawa banyak faktor lain yang mempengaruhi tingkah laku penabung dalam Islam.
Faktor itu ialah tingkat pendapatan, keinginan mengumpulkan harta untuk menjadi kaya raya, ketersediaan barang dan jasa untuk digunakan, zakat, tingkat keuntungan pelaburan, keinginan untuk menyimpan harta dengan motif berjaga-jaga dan tingkat ketakwaan seseorang.
Kecuali faktor penggunaan dan ketakwaan, menurut beliau, semua faktor diatas mempunyai hubungan positif dengan tingkat tabungan.
Ini menunjukkan bahawa semakin tingginya tingkat ketakwaan seseorang maka semakin rendah tingkat tabungan mereka.
Keadaan itu berlaku kerana pada umumnya mereka lebih memilih untuk bersedekah hartanya kejalan Allah SWT daripada menyimpan.
Kenyataannya, ketakwaan yang sepatutnya menyebabkan seseorang cenderung untuk menabung lebih banyak. Dalam hal ini mungkin Monzer lupa bahawa derma atau sedekah yang dikeluarkan oleh orang bertakwa juga adalah tabungan.
Namun Tabungan Ukhrawi ini berbeza dengan tabungan duniawi kerana keuntungan tabungan ukhrawi ini tidak hanya dapat dirasakan faedahnya sekarang tetapi imbalan mutlaknya akan diperolehi pada hari pembalasan kelak.
Kemusykilan lain, apabila sedekah atau derma tidak dikategorikan dalam jenis tabungan, adalah hanya orang fakir dan bakhil yang cenderung menabung banyak kerana kekikiran dan kebakhilan mereka, walaupun pada dasarnya pendapatan mereka jauh lebih rendah berbanding orang kaya yang bertakwa dan sentiasa mendermakan hartanya kejalan Allah SWT.
Derma dan sedekah orang bertakwa untuk yang daif akan meningkatkan mutu hidup mereka sebahagian proses pemberdayaan ekonomi, sehingga tidak mustahil apabila pada akhirnya mereka mampu memiliki tabungan sendiri.
Bukankah ini juga akan meningkatkkan kecenderungan umat Islam untuk menabung?
Dorongan Islam supaya umatnya cinta menabung, besar pahalanya, lebih-lebih lagi kejalan Allah SWT.
Imbalan pahala luar biasa bagi sesiapa yang bersedekah dan menafkahkan hartanya kejalan Allah sebagai sebagai tabungan untuk Hari Akhirat, tiada tolok banding dengan keuntungan dengan menabung di bank konvensional.
Pakara ini dinyatakan Allah dalam firman Nya yang bermaksud " Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah) adalah sama dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir, seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi sesiapa yang dikehendaki " (Surah al-baqarah, ayat 262)
Berdasarkan ayat ini, maka kita dapat memberi contoh perhitungan kasar, apabila seseorang menafkahkan hartanya kejalan Allah sebanyak RM1 saja, maka RM1 akan berkembang menjadi RM7, dan dari tiap-tiap RM7 itu pula akan menghasilkan RM100.
Secara keseluruhan dengan hanya bersedekah RM1, pahal yang akan kita perolehi pada hari pembalasan adalah RM700 (RM1 x 7 x 100).
Namun apabila kita bersedekah harta pada bulan Ramadan, maka ganjaran sedekah kita akan didharab dengan 10. Ini kerana setiap kebaikan yang umat Islam lakukan dibulan Ramadhan, Allah SWT membalasnya dengan 10 kebaikan. Ini bererti, RM1 yang kita sedekahkan pada bulan Ramadhan akan bernilai RM7,000 (RM1 x 7 x 100 x 10) pada hari akhirat kelak.
Seterusnya apabila harta yang kita sedekahkan itu kebetulan bertepatan dengan malam lalatul qadar, yang sesiapa sahaja membuat amalan baik pada malam itu akan mendapat ganjaran 1,000 kali, maka RM1 yang kita nafkahkan kejalan Allah SWT pada masa itu akan bernilai RM7,000,000 (RM1 x 7 x 100 x 10 x 1000) pada hari akhirat nanti.
Dan apabila Allah SWT menghendaki maka jumlah ini akan dilipat gandakan lagi. Contoh ini adalah hanya sebagai ilustrasi, sedangkan kepastian jumlah pahala yang kita dapatkan atas amalan baik kita, hanya Allah Yang Maha Mengetahui.
Tidakkah ini adalah keuntungan yang luar biasa besarnya kita perolehi dengan hanya menafkahkan harta (menabung untuk hari akhirat) kejalan Allah.
jika Cuba bayangkan kita sedekahkan itu bukan RM1, seberapa besar ganjaran yang akan kita dapat? Adakah keuntungan yang kita perolehi dengan menabung di bank konvensional dengan keuntungan yang berkisar antara tiga hingga lapan peratus daripada wang yang kita tabung itu menyamai dengan ganjaran yang kita perolehi dengan menabung di bank Allah SWT?
Dari huraian diatas dapat kita lihat bahawa Islam sangat menggalakkan umatnya untuk menabung.
Ini kerana jumlah tabungan adalah petunjuk penting dalam sebuah pembangunan ekonomi. Maka dapat dikatakan bahawa Islam adalah agama yang cinta akan kemajuan.
Oleh itu seseorang yang beriman dan bertakwa kepada Allah akan sentiasa berpandukan pada al-Quran sunah secara kaffah (menyeluruh) tidak hanya dalam aspek ritual semata-mata malah aspek ekonomi.
Menabung adalah satu ibadah Oleh kerana bahagian daripada akhlaqul karimah dan bahagian kewajipan agama, maka melakukannya adalah bahagian ibadah kepada Allah SWT yang berganjarkan pahala.
Umat Islam adalah umat penabung dan umat yang berwaw
Friday, December 5, 2008
PERLINDUNGAN KESIHATAN MENERUSI KAEDAH TAKAFUL
Wan Jemizan Wan Deraman
AVP,Shariah Compiance Department,TISB
Semua orang mengimpikan kehidupan yang bahagia dan harmoni. Seseorang itu sanggup berbuat apa sahaja demi untuk mencapai bahagia dan harmoni dalam hidup. Ada yang sanggup memerah keringat, membanting tulang empat kerat, mengorbankan harta dan ada yang sanggup mempertaruhkan nyawa. Tetapi malangnya ramai yang terlupa dalam banyak-banyak perkara yang penting untuk mencapai kebahagian dalam hidup ialah kesihatan fizikal dan mental.
Ramai yang menabung untuk simpanan hari tua, untuk pendidikan masa depan anak-anak dan seringkali tabungan untuk kesihatan tidak ramai yang betul-betul membuat persiapan dan persediaan. Malah yang lebih malangnya memandang remeh terhadap aspek tersebut dengan alasan di negara kita ini pihak kerajaan telah menyediakan perkhidmatan kesihatan kenapa perlu bersusah payah lagi untuk menyediakan dana untuk tujuan tersebut.
Dewasa ini kita seringkali dikejutkan dengan pelbagai jenis penyakit kritikal yang memerlukan dana yang besar untuk kos rawatannya. Penyakit darah tinggi dan kencing manis antara dua jenis penyakit yang boleh memberi kesan sampingan yang kronik termasuklah serangan sakit jantung. Penyakit jantung merupakan penyakit pembunuh terbesar di Malaysia. Disamping itu penyakit-penyakit seperti kanser, penyakit buah pinggang, strok dan sebagainya, juga antara penyakit yang dikenal pasti menjadi pembunuh rakyat Malaysia masa kini. Penyakit-penyakit ini memerlukan kos rawatan yang tinggi. Sebagai contoh anggaran perbelanjaan perubatan rawatan kanser payudara disekitar RM20,000 ke RM100,000. Tanpa ada tabungan yang cukup bagaimana boleh menampung kos perubatan yang begitu tinggi.
Kos untuk perkhidmatan perubatan juga telah turut meningkat dari masa ke semasa sehingga menjadi suatu beban yang akhirnya terpaksa ‘merempat’ untuk menagih simpati bantuan orang ramai. Dalam keadaan sebegini sudah pasti akan menambahkan lagi bebanan, beban menanggung penyakit yang dihidapi dan juga menanggung beban kewangan.
Dalam kontek ini , Islam sebagai agama yang lengkap dan syumul yang merangkumi semua aspek kehidupan amat mementingkan penjagaan kesihatan fizikal sebagaimana Islam mementingkan penjagaan kesihatan jiwa dan akal. Malah kaedah penjagaan kesihatan dalam Islam lebih syumul bilamana Islam menetapkan bahawa kesihatan itu bukan hanya kesihatan fizikal semata-mata malah ia mencakupi kesihatan jiwa dan akal.
Kesihatan adalah anugerah yang sangat bernilai dan perlu dihargai. Sabda nabi s.a.w yang bermaksud : Sesungguhnya kamu mempunyai tanggungjawab untuk menunaikan hak terhadap tubuh badan kamu (HR Bukhari ) dan sabda nabi lagi yang bermaksud: Orang mukmin yang kuat lebih baik dan disukai oleh Allah daripada orang mukmin yang lemah ( HR muslim )
Islam mendidik kita untuk menjaga kesihatan dengan cara mengambil langkah-langkah pencegahan sebelum ditimpa sebarang penyakit.Mencegah itu lebih baik daripada berubat. Apabila sudah ditimpa penyakit maka Islam mengajar kita agar tidak berputus asa dan hendaklah berusaha mencari penawar sebagaimana sabda Rasulullah s.a.w yang bermaksud: "Allah tidak menurunkan suatu penyakit itu kecuali diturunkan bersamanya ubat"(HR Bukhari ) Dan sebaik-baik penawar ialah Al Quran sebagaimana firman Allah yang bermaksud : Dan kami turunkan Al Quran sebagai penyembuh dan rahmat kepada orang-orang yang beriman (Al Isra’:82)
Diantara kaedah lain yang ditekankan oleh Islam dalam penjagaan kesihatan ialah menitikberatkan kebersihan sebagaimana firman Allah yang bermaksud: "Sesungguhnya Allah mengasihi orang-orang yang banyak bertaubat, dan mengasihi orang-orang yang sentiasa menyucikan diri" Dari aspek perubatan, kebersihan memainkan peranan yang cukup penting dalam mengelakkan seseorang ditimpa penyakit yang meliputi kebersihan diri dan kawasan persekitaran.
Makanan seimbang adalah antara kaedah yang juga diberi penekanan oleh Islam dalam penjagaan kesihatan.Setiap hari kita menikmati pelbagai jenis juadah makanan untuk keperluan jasmani kita dan membekalkan tenaga yang secukupnya dalam melakukan aktiviti sehari hari. Dalam soal pemakanan ini Allah berfirman yang bermaksud “Wahai manusia, makanlah apa-apa diatas dunia ini dari makanan yang halal dan baik dan janganlah kamu mengikut jejak langkah syaitan kerana sesungguhnya dia adalah musuhmu yang nyata. ”Firman Allah juga: Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari apa-apa yang baik daripada rezeki yang dikurniakan oleh kami kepadaMu dan bersyukurlah kepada Allah dan kepadanyalah kamu bersembah sujud (beribadat)
Pendek kata Islam amat perihatin dalam soal penjagaan kesihatan malah memerintahkan penganutnya sentiasa mengambil berat terhadap penjagaan kesihatan. Ini kerana seperti yang disebut dalam pepatah arab ”akal yang sihat pada tubuh badan yang sihat”. Justeru, menjadi satu tuntutan untuk memastikan segala langkah diambil demi menjaga kesihatan termasuklah menyediakan dana atau sumber kewangan yang cukup.
Memang tidak dinafikan pencegahan adalah cara terbaik untuk menjaga kesihatan.Namun persiapan menyediakan bekalan kewangan yang mencukupi untuk tabungan kesihatan adalah suatu perkara yang sangat perlu. Apabila mempunyai kewangan yang mencukupi maka semua perkara akan menjadi mudah dan barangkali tidak banyak kesulitan yang akan dihadapi walaupun sedang ditimpa penyakit. Pepatah melayu menyebut ’sediakan payung sebelum hujan’ amat tepat untuk direnungi dan sangat relevan dengan persiapan mewujudkan tabungan untuk kesihatan.
Persoalannya, adakah melalui kaedah tabungan biasa seperti yang disediakan oleh institusi kewangan mampu untuk memenuhi keperluan tabungan kesihatan. Memang tidak dinafikan ianya merupakan antara kaedah tabungan yang tidak boleh diketepikan. Cuma dalam hal ini kita perlu mencari satu kaedah yang lebih baik agar ianya benar-benar dapat memenuhi keperluan perlindungan perubatan seperti yang kita hajati.
Alhamdulillah dengan kemunculan takaful seolah-olah memberi nafas baru yang dapat memberikan peluang untuk mendapatkan perlindungan yang lebih komprehensif, adil dan telus. Hasrat untuk mendapatkan perlindungan kesihatan dapat diperolehi menerusi pelbagai produk yang ditawarkan oleh pengendali takaful yang ada di negara kita. Pelbagai produk yang inovatif telah ditawarkan oleh para pengendali ini bagi memenuhi keperluan perlindungan kesihatan oleh masyarakat.
Perlindungan menerusi produk-produk takaful adalah lebih unik kerana ia dirangka berdasarkan kepada tatacara dan modus operandi produk takaful yang mengambilkira kepentingan dan keperluan semua pihak yang terlibat. Di antara elemen yang ada pada satu-satu produk takaful ialah aspek memberikan bantuan perlindungan (protection) jika ditakdirkan seseorang peserta ditimpa sesuatu musibah.
Sebagai contoh Ali menyertai Pelan X dengan mencarum RM100 untuk 10 tahun. Sekiranya Ali hidup sehingga tempoh tersebut maka beliau akan memperolehi apa-apa yang terkumpul bagi tempoh berkenaan. Akan tetapi sekiranya ditakdirkan Ali baru sahaja menyertai pelan tersebut 1 tahun, beliau meninggal dunia. Kalau mengikut kaedah simpanan biasa (bukan kaedah takaful) maka Ali atau waris Ali akan memperolehi secara kasarnya RM1200. Namun hal ini berbeza dengan kaedah takaful. Ali atau warisnya akan menerima secara kasarnya wang caruman terkumpul dicampur dengan keuntungan pelaburan kemudian dicampur pula dengan baki caruman yang belum sempat dijelaskan yang akan dibayar oleh pengendali takaful hasil daripada derma dan bantuan para peserta lain yang menyertai pelan takaful. Pendek kata Ali atau warisnya akan menerima sejumlah wang yang jauh lebih tinggi berbanding daripada apa yang telah beliau carumkan. Justeru, perlindungan kaedah takaful seperti yang diterangkan ini jauh lebih bermanfaat dan dapat meringankan beban ketika ditimpa sesuatu musibah berbanding dengan kaedah-kaedah perlindungan biasa.
Takaful Ikhlas sebagai sebuah pengendali takaful yang berlandaskan prinsip-prinsip Syariah telah mengambil langkah yang proaktif dengan menawarkan produk-produk berkaitan perlindungan kesihatan yang inovatif dan dapat memenuhi keperluan semua lapisan masysrakat. Produk untuk kategori kesihatan ini ditawarkan bukan sahaja kepada individu malah turut ditawarkan kepada badan-badan korporat.
Takaful Ikhlas sangat komited dalam menyediakan perkhidmatan ini selaras dengan iltizamnya untuk memastikan semua urusan perniagaannya berasaskan kepada kesaksamaan dan keadilan.
Diantara produk yang berkaitan kesihatan yang ditawarkan oleh Takaful Ikhlas ialah ’Ikhlas Wanita Takaful’ yang direka khusus untuk perlindungan kesihatan wanita, Ikhlas Critical Illnesss Takaful Rider pula menyediakan perlindungan terhadap 40 penyakit-penyakit kritikal, Ikhlas Hospital Benefit Takaful Rider menyediakan perlindungan dalam bentuk bayaran tunai harian apabila dimasukkan ke hospital dan yang terkini Ikhlas Medic Assist Takaful yang menawarkan 5 pelan penghospitalan dan pembedahan yang komprehensif dengan kos yang berpatutan dan turut menyediakan kad perubatan.
Justeru, langkah-langkah proaktif perlu diambil dengan menyertai mana-mana pelan perlindungan kesihatan yang ditawarkan. Menyiapkan perlindungan untuk kesihatan perlu dimulakan dengan segera bukannya setelah penyakit sudah menyerang, seperti pepatah melayu menyebut ’sudah terantuk baru terngadah’.
Wan Jemizan Wan Deraman
AVP,Shariah Compiance Department,TISB
Semua orang mengimpikan kehidupan yang bahagia dan harmoni. Seseorang itu sanggup berbuat apa sahaja demi untuk mencapai bahagia dan harmoni dalam hidup. Ada yang sanggup memerah keringat, membanting tulang empat kerat, mengorbankan harta dan ada yang sanggup mempertaruhkan nyawa. Tetapi malangnya ramai yang terlupa dalam banyak-banyak perkara yang penting untuk mencapai kebahagian dalam hidup ialah kesihatan fizikal dan mental.
Ramai yang menabung untuk simpanan hari tua, untuk pendidikan masa depan anak-anak dan seringkali tabungan untuk kesihatan tidak ramai yang betul-betul membuat persiapan dan persediaan. Malah yang lebih malangnya memandang remeh terhadap aspek tersebut dengan alasan di negara kita ini pihak kerajaan telah menyediakan perkhidmatan kesihatan kenapa perlu bersusah payah lagi untuk menyediakan dana untuk tujuan tersebut.
Dewasa ini kita seringkali dikejutkan dengan pelbagai jenis penyakit kritikal yang memerlukan dana yang besar untuk kos rawatannya. Penyakit darah tinggi dan kencing manis antara dua jenis penyakit yang boleh memberi kesan sampingan yang kronik termasuklah serangan sakit jantung. Penyakit jantung merupakan penyakit pembunuh terbesar di Malaysia. Disamping itu penyakit-penyakit seperti kanser, penyakit buah pinggang, strok dan sebagainya, juga antara penyakit yang dikenal pasti menjadi pembunuh rakyat Malaysia masa kini. Penyakit-penyakit ini memerlukan kos rawatan yang tinggi. Sebagai contoh anggaran perbelanjaan perubatan rawatan kanser payudara disekitar RM20,000 ke RM100,000. Tanpa ada tabungan yang cukup bagaimana boleh menampung kos perubatan yang begitu tinggi.
Kos untuk perkhidmatan perubatan juga telah turut meningkat dari masa ke semasa sehingga menjadi suatu beban yang akhirnya terpaksa ‘merempat’ untuk menagih simpati bantuan orang ramai. Dalam keadaan sebegini sudah pasti akan menambahkan lagi bebanan, beban menanggung penyakit yang dihidapi dan juga menanggung beban kewangan.
Dalam kontek ini , Islam sebagai agama yang lengkap dan syumul yang merangkumi semua aspek kehidupan amat mementingkan penjagaan kesihatan fizikal sebagaimana Islam mementingkan penjagaan kesihatan jiwa dan akal. Malah kaedah penjagaan kesihatan dalam Islam lebih syumul bilamana Islam menetapkan bahawa kesihatan itu bukan hanya kesihatan fizikal semata-mata malah ia mencakupi kesihatan jiwa dan akal.
Kesihatan adalah anugerah yang sangat bernilai dan perlu dihargai. Sabda nabi s.a.w yang bermaksud : Sesungguhnya kamu mempunyai tanggungjawab untuk menunaikan hak terhadap tubuh badan kamu (HR Bukhari ) dan sabda nabi lagi yang bermaksud: Orang mukmin yang kuat lebih baik dan disukai oleh Allah daripada orang mukmin yang lemah ( HR muslim )
Islam mendidik kita untuk menjaga kesihatan dengan cara mengambil langkah-langkah pencegahan sebelum ditimpa sebarang penyakit.Mencegah itu lebih baik daripada berubat. Apabila sudah ditimpa penyakit maka Islam mengajar kita agar tidak berputus asa dan hendaklah berusaha mencari penawar sebagaimana sabda Rasulullah s.a.w yang bermaksud: "Allah tidak menurunkan suatu penyakit itu kecuali diturunkan bersamanya ubat"(HR Bukhari ) Dan sebaik-baik penawar ialah Al Quran sebagaimana firman Allah yang bermaksud : Dan kami turunkan Al Quran sebagai penyembuh dan rahmat kepada orang-orang yang beriman (Al Isra’:82)
Diantara kaedah lain yang ditekankan oleh Islam dalam penjagaan kesihatan ialah menitikberatkan kebersihan sebagaimana firman Allah yang bermaksud: "Sesungguhnya Allah mengasihi orang-orang yang banyak bertaubat, dan mengasihi orang-orang yang sentiasa menyucikan diri" Dari aspek perubatan, kebersihan memainkan peranan yang cukup penting dalam mengelakkan seseorang ditimpa penyakit yang meliputi kebersihan diri dan kawasan persekitaran.
Makanan seimbang adalah antara kaedah yang juga diberi penekanan oleh Islam dalam penjagaan kesihatan.Setiap hari kita menikmati pelbagai jenis juadah makanan untuk keperluan jasmani kita dan membekalkan tenaga yang secukupnya dalam melakukan aktiviti sehari hari. Dalam soal pemakanan ini Allah berfirman yang bermaksud “Wahai manusia, makanlah apa-apa diatas dunia ini dari makanan yang halal dan baik dan janganlah kamu mengikut jejak langkah syaitan kerana sesungguhnya dia adalah musuhmu yang nyata. ”Firman Allah juga: Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari apa-apa yang baik daripada rezeki yang dikurniakan oleh kami kepadaMu dan bersyukurlah kepada Allah dan kepadanyalah kamu bersembah sujud (beribadat)
Pendek kata Islam amat perihatin dalam soal penjagaan kesihatan malah memerintahkan penganutnya sentiasa mengambil berat terhadap penjagaan kesihatan. Ini kerana seperti yang disebut dalam pepatah arab ”akal yang sihat pada tubuh badan yang sihat”. Justeru, menjadi satu tuntutan untuk memastikan segala langkah diambil demi menjaga kesihatan termasuklah menyediakan dana atau sumber kewangan yang cukup.
Memang tidak dinafikan pencegahan adalah cara terbaik untuk menjaga kesihatan.Namun persiapan menyediakan bekalan kewangan yang mencukupi untuk tabungan kesihatan adalah suatu perkara yang sangat perlu. Apabila mempunyai kewangan yang mencukupi maka semua perkara akan menjadi mudah dan barangkali tidak banyak kesulitan yang akan dihadapi walaupun sedang ditimpa penyakit. Pepatah melayu menyebut ’sediakan payung sebelum hujan’ amat tepat untuk direnungi dan sangat relevan dengan persiapan mewujudkan tabungan untuk kesihatan.
Persoalannya, adakah melalui kaedah tabungan biasa seperti yang disediakan oleh institusi kewangan mampu untuk memenuhi keperluan tabungan kesihatan. Memang tidak dinafikan ianya merupakan antara kaedah tabungan yang tidak boleh diketepikan. Cuma dalam hal ini kita perlu mencari satu kaedah yang lebih baik agar ianya benar-benar dapat memenuhi keperluan perlindungan perubatan seperti yang kita hajati.
Alhamdulillah dengan kemunculan takaful seolah-olah memberi nafas baru yang dapat memberikan peluang untuk mendapatkan perlindungan yang lebih komprehensif, adil dan telus. Hasrat untuk mendapatkan perlindungan kesihatan dapat diperolehi menerusi pelbagai produk yang ditawarkan oleh pengendali takaful yang ada di negara kita. Pelbagai produk yang inovatif telah ditawarkan oleh para pengendali ini bagi memenuhi keperluan perlindungan kesihatan oleh masyarakat.
Perlindungan menerusi produk-produk takaful adalah lebih unik kerana ia dirangka berdasarkan kepada tatacara dan modus operandi produk takaful yang mengambilkira kepentingan dan keperluan semua pihak yang terlibat. Di antara elemen yang ada pada satu-satu produk takaful ialah aspek memberikan bantuan perlindungan (protection) jika ditakdirkan seseorang peserta ditimpa sesuatu musibah.
Sebagai contoh Ali menyertai Pelan X dengan mencarum RM100 untuk 10 tahun. Sekiranya Ali hidup sehingga tempoh tersebut maka beliau akan memperolehi apa-apa yang terkumpul bagi tempoh berkenaan. Akan tetapi sekiranya ditakdirkan Ali baru sahaja menyertai pelan tersebut 1 tahun, beliau meninggal dunia. Kalau mengikut kaedah simpanan biasa (bukan kaedah takaful) maka Ali atau waris Ali akan memperolehi secara kasarnya RM1200. Namun hal ini berbeza dengan kaedah takaful. Ali atau warisnya akan menerima secara kasarnya wang caruman terkumpul dicampur dengan keuntungan pelaburan kemudian dicampur pula dengan baki caruman yang belum sempat dijelaskan yang akan dibayar oleh pengendali takaful hasil daripada derma dan bantuan para peserta lain yang menyertai pelan takaful. Pendek kata Ali atau warisnya akan menerima sejumlah wang yang jauh lebih tinggi berbanding daripada apa yang telah beliau carumkan. Justeru, perlindungan kaedah takaful seperti yang diterangkan ini jauh lebih bermanfaat dan dapat meringankan beban ketika ditimpa sesuatu musibah berbanding dengan kaedah-kaedah perlindungan biasa.
Takaful Ikhlas sebagai sebuah pengendali takaful yang berlandaskan prinsip-prinsip Syariah telah mengambil langkah yang proaktif dengan menawarkan produk-produk berkaitan perlindungan kesihatan yang inovatif dan dapat memenuhi keperluan semua lapisan masysrakat. Produk untuk kategori kesihatan ini ditawarkan bukan sahaja kepada individu malah turut ditawarkan kepada badan-badan korporat.
Takaful Ikhlas sangat komited dalam menyediakan perkhidmatan ini selaras dengan iltizamnya untuk memastikan semua urusan perniagaannya berasaskan kepada kesaksamaan dan keadilan.
Diantara produk yang berkaitan kesihatan yang ditawarkan oleh Takaful Ikhlas ialah ’Ikhlas Wanita Takaful’ yang direka khusus untuk perlindungan kesihatan wanita, Ikhlas Critical Illnesss Takaful Rider pula menyediakan perlindungan terhadap 40 penyakit-penyakit kritikal, Ikhlas Hospital Benefit Takaful Rider menyediakan perlindungan dalam bentuk bayaran tunai harian apabila dimasukkan ke hospital dan yang terkini Ikhlas Medic Assist Takaful yang menawarkan 5 pelan penghospitalan dan pembedahan yang komprehensif dengan kos yang berpatutan dan turut menyediakan kad perubatan.
Justeru, langkah-langkah proaktif perlu diambil dengan menyertai mana-mana pelan perlindungan kesihatan yang ditawarkan. Menyiapkan perlindungan untuk kesihatan perlu dimulakan dengan segera bukannya setelah penyakit sudah menyerang, seperti pepatah melayu menyebut ’sudah terantuk baru terngadah’.
TAKAFUL; PILIHAN TERBAIK UNTUK UMAT ISLAM
Wan Jemizan Wan Deraman
AVP,Shariah Compliance Department,TISB
Takaful berasal dari perkataan Arab iaitu ‘takafala’ yang bermaksud saling jamin-menjamin di antara satu sama lain. Dalam industri takaful, peserta-peserta Takaful akan saling jamin-menjamin sesame mereka dengan memperuntukkan jumlah tertentu bantuan sewaktu salah seorang daripada mereka ditinpa musibah.
Sistem insurans mengikut secara Islam ialah satu sistem yang berteraskan kepada prinsip Syariah iaitu al-Quran, Sunnah, Ijmak dan Qias. Tegasnya Islam menetapkan prinsip “Ketelusan dan Keadilan” bagi memastikan semua pihak yang berurusan tidak merasa tertindas, sebagaimana firman Allah SWT dalam surah al-Nahl, ayat 90:
Maksudnya: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu daoat mengambil pelajaran.”
Prinsip utama dalam takaful ialah semua pihak yang menyertai kontrak ini dapat merasa manfaat dan tidak terasa sebarang keraguan atau rasa tertipu, seperti membayar sesuatu dengan harga yang mahal tetapi tidak mendapat barang yang dikehendaki, atau pun barang itu hanya dijanjikan jika berlaku sesuatu musibah ke atas diri atau hartanya.
Sehubungan dengan itu, kontrak takaful adalah berasaskan kepada Tabarru’ (sumbangan) dan Taawun (tolong menolong)., di mana semua peserta yang memilih /menyertai Plan Takaful bersetuju untuk saling tolong menolong, jamin menjamin antara mereka ketika ditimpa musibah atau kemalangan. Maksudnya, semua peserta menyumbang dengan ikhlas untuk saling membantu antara mereka jika ditimpa musibah. Dengan konsep Tabarru’ & Taawun ini, maka akan terhapuslah sikap keakuan, iaitu saya beli polisi ini untuk diri saya dan bukan untuk orang lain, tetapi konsep Tabarru’ & Taawun, ini telah menyemarakkan rasa kasih sesama saudara ketika mereka mengalami kesusahan atau penderitaan.
Tegasnya lagi, dalam sistem takaful, bukan hanya nama yang berbeza bahkan juga kontrak yang berasaskan Tabarru’ & Taawun, dan ia dikawal selia oleh Majlis Pengawasan Syariah bagi memastikan semua operasinya samada produk, pelaburan dan juga pengurusan adalah selaras dengan prinsip-prinsip Syariah.
Sebenarnya, konsep yang sangat mulia ini telah wujud dan dilaksanakan sejak zaman Rasulullah SAW. Konsep ‘takaful’ ini telah diamalkan mengikut kondisi semasa pada zaman tersebut. Untuk pengetahuan kita bersama, sebenarnya terdapat paling kurang lima skim jaminan sosial (insurans) telah dilaksanakan pada zaman Rasulullah s.a.w dan para sahabat.
Antara skim-skim tersebut adalah:
a. Skim (Nidhom) al-Aqilah
Skim ini telah diterimapakai oleh Rasulullah s.a.w sebaik sahaja tertubuhnya Negara Islam Madinah. Skim ini bertujuan melindungi seseorang dari tanggungan pembunuhan yang tidak disengajakan.
Skim ini dilaksanakan menerusi sumbangan sejumlah wang tertentu dari setiap ahli Qabilah kepada satu dana untuk menampung pembayaran Diyat kepada keluarga si mati.
Sebenarnya konsep skim ini telah dilaksanakan oleh kaum Arab jahiliyah dalam usaha mereka untuk mencari jalan penyelesaian dari terus berbunuhan sesama kabilah. Amalan ini diterimapakai oleh Islam.
b. Skim al-Qasamah
Skim ini membolehkan anggota masyarakat mengambil tanggungjawab bersama bagi membantu ahli keluarga yang mati dibunuh apabila pembunuhnya tidak dapat dikesani atau tidak mempunyai keterangan dan bukti yang lengkap sehingga dapat disabitkan dengan kesalahan untuk menerima pampasan tertentu.
c. Skim Muwalah
Skim ini berlaku secara sukarela antara dua pihak dengan tujuan salah seorang daripadanya mengambil risiko tanggungan ke atas sahabatnya sekiranya berlaku sesuatu malapetaka ke atas salah seorang daripada mereka.
d. Skim Dhaman dan Kafalah
Skim ini adalah satu kontrak jaminan samada untuk mendapatkan sesuatu yang dijamin oleh seseorang atau menjamin seseorang terhadap sesuatu risiko, tertakluk kepada syarat-syarat tertentu yg telah dipersetujui mereka.
e. Zakat
Zakat juga merupakan satu-satunya institusi jaminan sosial yangg diwajibkan oleh Islam, di mana 2.5% daripada harta seseorang wajib dizakatkan untuk diagihkan kepada lapan (8) asnaf (golongan) yang berhak setelah cukup syarat-syaratnya.
Kesimpulannya, nilai murni yang terdapat dalam pelaksanaan Takaful ini sebenarnya telah wujud sejak zaman- berzaman lagi. Sekiranya ia dihayati dengan sebetulnya, maka banyak faedah yang akan diperolehi. Bukan sahaja peserta-peserta akan mendapat perlindungan ketika berhadapan dengan musibah, tetapi lebih dari itu adalah mereka menderma untuk membantu peserta lain yang berada dalam kesusahan.
Wan Jemizan Wan Deraman
AVP,Shariah Compliance Department,TISB
Takaful berasal dari perkataan Arab iaitu ‘takafala’ yang bermaksud saling jamin-menjamin di antara satu sama lain. Dalam industri takaful, peserta-peserta Takaful akan saling jamin-menjamin sesame mereka dengan memperuntukkan jumlah tertentu bantuan sewaktu salah seorang daripada mereka ditinpa musibah.
Sistem insurans mengikut secara Islam ialah satu sistem yang berteraskan kepada prinsip Syariah iaitu al-Quran, Sunnah, Ijmak dan Qias. Tegasnya Islam menetapkan prinsip “Ketelusan dan Keadilan” bagi memastikan semua pihak yang berurusan tidak merasa tertindas, sebagaimana firman Allah SWT dalam surah al-Nahl, ayat 90:
Maksudnya: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu daoat mengambil pelajaran.”
Prinsip utama dalam takaful ialah semua pihak yang menyertai kontrak ini dapat merasa manfaat dan tidak terasa sebarang keraguan atau rasa tertipu, seperti membayar sesuatu dengan harga yang mahal tetapi tidak mendapat barang yang dikehendaki, atau pun barang itu hanya dijanjikan jika berlaku sesuatu musibah ke atas diri atau hartanya.
Sehubungan dengan itu, kontrak takaful adalah berasaskan kepada Tabarru’ (sumbangan) dan Taawun (tolong menolong)., di mana semua peserta yang memilih /menyertai Plan Takaful bersetuju untuk saling tolong menolong, jamin menjamin antara mereka ketika ditimpa musibah atau kemalangan. Maksudnya, semua peserta menyumbang dengan ikhlas untuk saling membantu antara mereka jika ditimpa musibah. Dengan konsep Tabarru’ & Taawun ini, maka akan terhapuslah sikap keakuan, iaitu saya beli polisi ini untuk diri saya dan bukan untuk orang lain, tetapi konsep Tabarru’ & Taawun, ini telah menyemarakkan rasa kasih sesama saudara ketika mereka mengalami kesusahan atau penderitaan.
Tegasnya lagi, dalam sistem takaful, bukan hanya nama yang berbeza bahkan juga kontrak yang berasaskan Tabarru’ & Taawun, dan ia dikawal selia oleh Majlis Pengawasan Syariah bagi memastikan semua operasinya samada produk, pelaburan dan juga pengurusan adalah selaras dengan prinsip-prinsip Syariah.
Sebenarnya, konsep yang sangat mulia ini telah wujud dan dilaksanakan sejak zaman Rasulullah SAW. Konsep ‘takaful’ ini telah diamalkan mengikut kondisi semasa pada zaman tersebut. Untuk pengetahuan kita bersama, sebenarnya terdapat paling kurang lima skim jaminan sosial (insurans) telah dilaksanakan pada zaman Rasulullah s.a.w dan para sahabat.
Antara skim-skim tersebut adalah:
a. Skim (Nidhom) al-Aqilah
Skim ini telah diterimapakai oleh Rasulullah s.a.w sebaik sahaja tertubuhnya Negara Islam Madinah. Skim ini bertujuan melindungi seseorang dari tanggungan pembunuhan yang tidak disengajakan.
Skim ini dilaksanakan menerusi sumbangan sejumlah wang tertentu dari setiap ahli Qabilah kepada satu dana untuk menampung pembayaran Diyat kepada keluarga si mati.
Sebenarnya konsep skim ini telah dilaksanakan oleh kaum Arab jahiliyah dalam usaha mereka untuk mencari jalan penyelesaian dari terus berbunuhan sesama kabilah. Amalan ini diterimapakai oleh Islam.
b. Skim al-Qasamah
Skim ini membolehkan anggota masyarakat mengambil tanggungjawab bersama bagi membantu ahli keluarga yang mati dibunuh apabila pembunuhnya tidak dapat dikesani atau tidak mempunyai keterangan dan bukti yang lengkap sehingga dapat disabitkan dengan kesalahan untuk menerima pampasan tertentu.
c. Skim Muwalah
Skim ini berlaku secara sukarela antara dua pihak dengan tujuan salah seorang daripadanya mengambil risiko tanggungan ke atas sahabatnya sekiranya berlaku sesuatu malapetaka ke atas salah seorang daripada mereka.
d. Skim Dhaman dan Kafalah
Skim ini adalah satu kontrak jaminan samada untuk mendapatkan sesuatu yang dijamin oleh seseorang atau menjamin seseorang terhadap sesuatu risiko, tertakluk kepada syarat-syarat tertentu yg telah dipersetujui mereka.
e. Zakat
Zakat juga merupakan satu-satunya institusi jaminan sosial yangg diwajibkan oleh Islam, di mana 2.5% daripada harta seseorang wajib dizakatkan untuk diagihkan kepada lapan (8) asnaf (golongan) yang berhak setelah cukup syarat-syaratnya.
Kesimpulannya, nilai murni yang terdapat dalam pelaksanaan Takaful ini sebenarnya telah wujud sejak zaman- berzaman lagi. Sekiranya ia dihayati dengan sebetulnya, maka banyak faedah yang akan diperolehi. Bukan sahaja peserta-peserta akan mendapat perlindungan ketika berhadapan dengan musibah, tetapi lebih dari itu adalah mereka menderma untuk membantu peserta lain yang berada dalam kesusahan.
Subscribe to:
Posts (Atom)
